Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 090

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 090Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
16 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

090

Mata sang wiku terbelalak kaget. Mulutnya seperti merintih atau menangis atau keduanya. Dinar menggerakkan tubuhnya. Ia terbebas dari kekuatan mukjizat. Cundrik dibuang ke sudut; tangannya dengan seluruh kekuatan memukul kepala reca Batara Kala.

Darrr!” Kepala rupang hancur berkeping-keping. Dari perut reca yang besar terdengar bunyi gemuruh seperti gunung berapi erupsi. Dinar tanggap sasmita. Tubuhnya mencelat keluar dan tepat kakinya menginjak tanah di luar barung-barung saat itu pula arca Batara Kala meledak.

“Blaaarrr!” 

Pondok hancur lebur, atapnya terbang, dinding bambu luluh lantak. Wiku Suragati pun terlempar berguling-guling. Mulutnya mengerang kesakitan. Namun ia memang kebal, sehingga hanya lecet-lecet. Dengan satu lengan yang masih normal, ia memegang erat tongkat hitamnya. Lengan kirinya remuk; parasnya pasi; tapi sorot matanya beringas. Ia memandang Dinar dengan murka; dendam; berduka; juga miris ketika musuh menghampiri sambil tersenyum dingin.

“Dukun lepus, engkau belum mampus? Bagus. Mari kita tuntaskan!”

Pupus sudah harapan Wiku Suragati. Ia gentar sekaligus bingung tidak tahu harus berbuat apa; akhirnya mata gelap. Sambil menggereng keras, ia menubruk dan tongkatnya menghantam. Dinar memandang tenang; ia menunggu sampai toya dekat, kemudian tubuhnya dimiringkan dan kakinya digeser maju ke samping; tangan kanannya menyambar dan …

“Desss!”

Lengan kanan Wiku Suragati terpukul dari samping. Tongkat bututnya terlempar masuk semak-semak. Kemudian tamparan tangan kiri Dinar disertai lambaran aji Rog-rog Asem tepat mengenai kepalanya. Wiku Suragati terpekik ngeri. Tangan kanan memegangi kepala, dan napas kakek uzur itu kembang kempis. Ia merangkak duduk. Berusaha bangkit, namun tidak kuat, dan ambruk terduduk.

“Keparat engkau Dinar. Bunuh aku kalau engkau jantan.”

Dinar tersenyum. Ia bukan pendendam. Begawan Sempani tidak pernah mengajarkan itu. Namun menurutnya kelakuan Wiku Suragati sangat keterlaluan dan di luar batas kemanusiaan.

“Pendeta palsu. Engkau harus merasakan sendiri bagaimana seseorang menderita akibat perbuatan terkutukmu,” Dinar mengambil sekepal tanah liat; diremas-remas agar lunak; sambil memandangi lawannya dengan mulut tersenyum.

Wiku Suragati melihat dengan mata ketakutan.

“Apa, apa yang akan engkau lakukan?”

“Apa yang akan aku lakukan? Dukun lepus, masih perlukah engkau bertanya? Tentu aku akan melakukan hal sama sebagaimana engkau perbuat terhadap Pranacitra; Lurah Branjangan; para perwira Tembayat; dan juga engkau lakukan terhadap istriku.”

“Hik hik hik, Dinar, hik hik hik,” Wiku Suragati terkekeh untuk menutupi rasa ngeri.

“Engkau masih sempat tertawa?”

“Hik hik hik. Bocah kemaren sore, mana mungkin engkau mampu seperti aku?”

“Engkau ragu, atau takut?”

“Lakukan semaumu. Aku tidak pernah takut terhadap siapapun.”

Dinar diam. Ia bersila berhadap-hadapan dengan Wiku Suragati dalam jarak lima meter. Tanah lempung itu dikepal-kepal lalu dibuat menyerupai boneka. Beberapa kali matanya melihat Wiku Suragati untuk dipatut-patutkan dengan anak-anakan yang dibuatnya. Setelah dirasa cukup, Dinar melompat ke arah sang wiku yang berteriak kesakitan karena segumpal rambutnya dicabut paksa oleh Dinar.