Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 091

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 091Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
17 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

091

“Aku terlalu menganggap enteng musuh,” sesal Wiku Suragati dalam hati. Kini ia paham, Suradipa tewas di tangan Pangeran Arya Damar. Lawan terlalu sakti. Ia juga tahu akan binasa.

Dinar bisa meloncat dalam posisi bersila, ini sudah menunjukkan betapa saktinya saudara seperguruan Damar itu. Wiku Suragati tidak merasa terhina mati di tangan seorang digdaya. Ia hanya penasaran dendamnya tidak tertunaikan.

Mendadak Wiku Suragati terkekeh. Ia dalam keadaan seperti itu tidak kehilangan nalar. Siapa bilang dendamnya tidak kesampaian? Tunggu saja Dinar; Damar, dan Rangga. Mereka ini kelak akan saling bunuh dengan Pangeran Purwawisesa. Akan tetapi, tertawanya berhenti, wiku ini melihat dengan giris saat Dinar mencabut patrem dari pinggangnya. Boneka itu sudah diberi rambut. Dinar bersila dengan memejamkan mata dan mulutnya mendaras rapalan. Perlahan-lahan matanya terbuka, lalu patrem diarahkan ke kaki kanan boneka.

“Dukun gemblung. Jaga kaki kananmu.”

Hik hik hik. Engkau tidak akan mampu..”

“Benar begitu? Nah, rasakan!” Patrem ditusukkan ke kaki boneka.

Wiku Suragati menghimpun tenaga sakti. Dinar merasa betapa kaki boneka itu mengeras. Ia pun mengerahkan tenaga dalam. Beberapa detik mereka beradu kasekten, akhirnya ..

Blesss!” Paha kanan boneka tertusuk dan darah mengucur keluar.

“Aduuuuh!” Wiku Suragati mengerang. Tangan kanan memegangi paha kanannya yang terluka meski tidak terlampau dalam.

“Jaga paha kirimu manusia berhati iblis,” Kembali Dinar menusuk, sekali ini tanpa ada perlawanan berarti.

Blesss!” Paha kiri boneka tertusuk dan bercucuran darah.

“Aduuuuh! Dinar, bunuh aku,” ujar Wiku Suragati dengan memelas.

“Enak saja. Jaga lenganmu.” Dinar menusuk lengan kanan, lalu lengan kiri boneka, dan darah meleleh di mana-mana. Wiku Suragati menggeliat seperti cacing kepanasan. Berkali-kali kakek renta itu minta mati. Tubuh yang hanya tulang dibungkus kulit itu ternyata sangat liat.

“Sempurnakan aku, Dinar. Aku sudah kalah. Mau apa lagi, cepat bunuh aku ….”

“Bagaimana dengan Pranacitra dan Lurah Branjangan yang sama sekali tidak kenal tapi engkau bunuh dengan keji? Istriku salah apa denganmu? Rasakan sekarang penderitaan seperti yang dialami para perwira Tembayat.” Dinar bukan orang kejam. Manusia iblis semacam dukun lepus ini layak mati, namun ia tidak hendak menyiksa lebih jauh. Ia ingin mengorek keterangan.

“Dinar, aku sudah tua, sepantasnya engkau ini cucuku. Ampuni aku, Dinar,” kata Wiku Suragati menangis sesenggukan tanpa malu.

“Hmm. Betapa mudahnya minta ampun. Coba bayangkan, apakah engkau juga memberi ampunan kalau semisal aku yang kalah? Lebih baik engkau mengaku terus terang, jangan dusta! Siapa dalang di balik semua ini? Aku belum percaya keteranganmu tadi. Beri penjelasan jujur, dan engkau tidak akan tersiksa lagi.”

“Aku tidak bohong!”

“Bagus! Jadi siapa menyuruhmu berbuat onar?”

“Pangeran Purwawisesa.”

“Bohong.”

“Tidak!”

“Dusta.”

“Demi para dewa..”

“Mana mungkin engkau percaya dewa?”

“Demi sang hyang wisesa.”

“Engkau iblis, mana takut terhadap sang pencipta semesta?”

“Aku tidak bohong. Pangeran Purwawisesa yang menyuruhku.”

“Dusta!”

“Tidak, Dinar, aku tidak dusta.”

“Bohong! Lihat patremku siap menusuk dadamu. Katakan sejujurnya, mungkin aku dapat mengampunimu.”