Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 092

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 092Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
18 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

092

“Pangeran Purwawisesa. Demi sang hyang Batara Kala, junjunganku, aku bersumpah!”

Dinar lega. Ia paham, Wiku Suragati seorang pemuja berat Batara Kala. Sumpahnya tidak main-main. Kakek itu jelas tidak berbohong. Dengan gemas Dinar menusukkan patrem tepat di ulu hati boneka itu.

Crappp!” Wiku Suragati terguling. Dari dadanya mengucur darah segar. Matanya yang mulai redup mendelik, namun pada detik-detik terakhir ia terkekeh-kekeh.

Hik hik hik. Dinar, jangan engkau puas bisa membunuhku. Aku akan membalas dendam lewat istrimu. Tunggu pembalasanku.” Napas Wiku Suragati tersedak dalam sekarat. Lalu diam.

Dinar membuang boneka setelah meremas hancur kembali menjadi tanah liat. Patremnya disimpan di pinggang. Sambil berloncatan dalam pekat malam, Dinar membayangkan Pangeran Purwawisesa dengan geram.

“Pangeran keparat. Demi ambisi, engkau tega membunuh perwira Tembayat, bahkan Latri keponakanmu sendiri juga ingin kau habisi. Aku tak paham, bagaimana Panembahan Senopati, raja Mataram yang agung, dapat memiliki keturunan yang bengis macam Purwawisesa?” Dinar berniat menceritakan kepada Latri. Mungkinkah sang istri percaya?! Dan kiamatlah jika Latri sampai tidak percaya dengannya, tanda-tanda akan runtuhnya cinta mereka.

“Sebaiknya aku tidak menunda-nunda masalah. Malam ini juga aku harus ke Mataram.” Dinar ingin menangkap Pangeran Purwawisesa, lalu dipaksa mengakui niatnya memberontak.

“Jika Pangeran Purwawisesa sudah aku tangkap, terserah bagaimana sikap Panembahan Senopati. Yang jelas namaku akan kembali bersih. Wiku Suragati sudah mati. Percuma dijadikan saksi. Tapi aku percaya kearifan eyang Panembahan,” ujar Dinar dalam hati. Ia berlari mantak aji Bayu Bajra. Tubuhnya berkelebatan di antara pepohonan. Tujuannya satu: Kota Raja.