Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 093

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 093Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
19 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

093

Ia sedang sibuk memikirkan kematian demi kematian aneh yang terjadi di Tembayat. Gusti prabu memberinya tugas menelisik desas desus tentang rencana pemberontakan. Sekarang, pelayan ini mengganggunya dengan urusan tetek-bengek. Matanya memandang jengkel gadis di depannya yang masih terus menangis.

“Darsi, namamu Darsi?”

“Sendhika Gusti Tumenggung.”

“Engkau seharusnya mengerti sekarang bukan saat tepat untuk main-main dan apalagi menggangguku sepagi ini. Aku sedang pusing memikirkan banyak persoalan. Berdoalah sebelum engkau bertutur dan semoga ceritamu cukup berharga sehingga tidak membuatku marah.”

“Sendhika Gusti Tumenggung.”

“Bicaralah.”

Darsi mengangkat muka. Ia begitu yakin ceritanya sangat penting, dan ia memang sudah membulatkan tekat untuk menyampaikan berita ini kepada Tumenggung Suryabranta. Adalah Triman, orang kepercayaan Pangeran Purwawisesa yang mengantarnya ke ndalem Suryabrantan. Kepala pengawal dan Triman adalah sahabat kental sejak remaja. Hanya ini yang mampu dilakukan pelayan rendahan seperti Darsi; hanya ini cara melampiaskan dengki, iri serta cemburu karena cintanya bertepuk sebelah kaki. Demang Dinar tidak menaruh perhatian terhadapnya. Darsi menjadi bucin (budak cinta) ditambah dengan halusinasi, membuat ia mata gelap: tijitibeh, mati siji mati kabeh, jika Demang Dinar menolak cintanya ia dan istrinya harus mati.

“Ampun Tumenggung. Hamba, tanpa sengaja, tanpa maksud mengintip, dengan sangat jelas menyaksikan sesuatu yang hebat; mengerikan dan ahhhh menyeramkan.”

“Bicara yang jelas. Menyaksikan apa?” tanya Tumenggung Suryabranta dengan sedikit jengkel. Hari itu ia banyak tugas. Sekarang mendengarkan cerita sepotong-sepotong.

“Ampun Tumenggung. Hamba menyaksikan sendiri gusti demang Dinar melukai ayam Traju Mas dari jarak jauh. Tanpa disentuh, ayam kelangenan itu terluka pahanya, ahhhh, seram sekali.” Darsi menutup muka dengan kedua tangannya yang halus. Ia kembali sesenggukan.

“Demang Dinar majikanmu?” Tumenggung Suryabranta mulai tertarik. Kabar ini sangat menarik. Bukankah pengampu di Tembayat itu sedang dibincangkan banyak orang? Bahwa isu tersebut fitnah atau memang kenyataan, yang jelas nama Dinar Saka disebut-sebut bahkan oleh kalangan dalam istana.

“Sendhika.”

“Apa yang beliau lakukan?”

“Hamba benar-benar ngeri sekali.” Darsi menggigil.

“Jelaskan! Apa yang beliau lakukan?”

“Tanpa hamba sengaja, malam itu hamba melihat gusti demang bercengkerama di dalam kamar bersama gusti putri Latri. Kemudian gusti demang membuat boneka mirip Si Petak..”

“Petak itu siapa?”

“Ayam peliharaan gusti putri. Tubuhnya montok. Semua bulunya putih maka diberi nama Si Petak. Hanya paruhnya saja kuning, sehingga disebut Traju Mas. Ayam itu bersih dan …”

“Sudah, sudah. Kamu malah cerita ayam. Lanjutkan laporanmu.”

“Ampun Tumenggung. Demang Dinar mengambil jarum dan ditusukkan ke boneka tepat pada pahanya, dan, ahhh …”

“Dan bagaimana?” Tumenggung Suryabranta semakin tertarik. Tubuh kekarnya sampai terbungkuk dari kursi supaya lebih dekat dengan Darsi.

“Si Petak petok-petok memekik kesakitan. Ketika hamba melihat di kandang, paha ayam itu mengucurkan darah seperti kena tusuk, padahal tidak ada luka sama sekali.”