Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 094

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 094Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
21 September 2020 23:57 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

094

 “Sebentar, sebentar!” bentakan Tumenggung Suryabranta membuat Darsi terkejut. Wajah sang tumenggung pucat berkeringat. Tangan yang memegang kursi menggigil.

“Waringin Sungsang,” desisnya.

“Bagaimana gusti?” Darsi tidak mengerti sang tumenggung bicara apa.

“Ulangi ceritamu!”

“Cerita yang mana gusti Tumenggung?”

“Setan alas! Ulangi laporanmu soal Demang Dinar melukai ayam.”

“Si Petak Traju Mas maksud gusti?”

“Terserah kamu menyebutnya. Majikanmu membuat boneka mirip seekor ayam. Ayun-ayun tadi dibuat dari tanah lempung?”

Darsih mengangguk. Ia kembali bertutur, namun sudah tidak geragapan. Diceritakan dari awal Demang Dinar ke taman mengambil tanah liat; masuk kamar; membuat boneka mirip ayam kemudian ditusuk menggunakan jarum. Dan akibatnya sangat menyeramkan. Ayam Traju Mas di kandang terluka pahanya tanpa disentuh sama sekali.

“Waringin Sungsang!” Berdegup jantung Tumenggung Suryabranta. Desas desus santer itu benar, ternyata. Kematian demi kematian Pranacitra; beberapa perwira; dan terakhir adalah Ki Lurah Branjangan yang sarat misteri. Ternyata Dinar yang melakukan. Lalu, apa tujuannya? Apa maksud pemimpin Tembayat membunuhi anak buahnya sendiri? Tentu tersembunyi niat buruk. Perlu dilaporkan kepada Panembahan Senopati sekarang juga.

“Laporanmu aku terima.” Tumenggung Suryabranta masuk ke dalam untuk berbenah diri. Darsi disuruh menanti. Kemudian ia mengajak Darsi ke istana, menghadap gusti prabu.

Di depan Panembahan Senopati yang menyimak dengan kening berkerut, berceritalah sang tumenggung, tentang apa yang didengar dari Darsi. Sang prabu terkejut bukan kepalang. Ingatannya melayang kepada putra kinasihnya, Pangeran Arya Damar. Bukankah Dinar sahabatnya sejak kecil, juga Damar sendiri yang mengusulkan Dinar menjadi demang di Tembayat.

“Ceritakan dari awal,” titah gusti prabu kepada Darsi.

Dengan tubuh gemetar dan tangan basah keringat, Darsi mengulang kisahnya pada senja itu menyaksikan Demang Dinar melukai ayam Si Petak Traju Mas dari jarak jauh. Gusti prabu sangat murka, namun wajahnya biasa saja. Setelah menyuruh pengawal untuk membawa Darsi, yang sejak itu “diamankan” di dalam istana sebagai saksi mahkota; kemudian sang prabu berdua dengan Tumenggung Suryabranta melakukan perundingan. Semua pangeran termasuk Raden Mas Jolang; Arya Damar; Raden Rangga dan Purwawisesa dipanggil menghadap. Diputuskan untuk mengundang Latri Dewani, bersama suaminya, Demang Dinar, sowan ke Mataram.

“Tumenggung Suryabranta, kepadamu kuserahkan tugas ini. Panggil Demang Dinar dan istrinya menghadapku.” Persidangan dibubarkan setelah gusti prabu mengatur supaya pengawal khusus siap sewaktu-waktu menangkap Demang Dinar jika kelak hasil pisowanan membuat sang prabu yakin akan keputusannya. Pangeran Arya Damar mundur dari balairung dengan tertunduk lesu. Wajahnya sangat keruh. Jauh di lubuk hati ia sama sekali tidak percaya bahwa Dinar berada di balik pembunuhan keji itu. Ia mengenal betul siapa Dinar.

“Bukan karena ia sahabat karibku sejak kecil,” katanya dalam hati.