Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 095

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 095Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
23 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

095

Pangeran Arya Damar mundur dari balairung dengan tertunduk lesu. Wajahnya sangat keruh. Jauh di lubuk hati ia sama sekali tidak percaya bahwa Dinar berada di balik pembunuhan keji itu. Ia mengenal betul siapa Dinar.

“Bukan karena ia sahabat karibku sejak kecil,” katanya dalam hati.

Dapat dibayangkan betapa gulana hati Latri Dewani ketika pagi itu kedatangan tamu dari Mataram, Tumenggung Suryabranta menyampaikan perintah Panembahan Senopati agar ia dan suaminya menghadap ke istana. Semalaman ia tidak tidur barang sekejap pun. Hatinya risau. Gelisah memikirkan suaminya tidak kunjung datang. Tangan dan kakinya yang berdarah, sudah sembuh, artinya sang suami sukses mencari musuh tersembunyi. Berhasil menemukan lawannya. Tapi, mengapa sampai sekarang belum pulang? Terbunuhkan suaminya? Siapa musuh itu?

Malam bersalin pagi. Suaminya belum kembali. Galau menunggu di kamar Latri duduk di ruangan silir dekat taman, balik ke kamar lagi, makin lama kian gundah. Duduk rasanya tidak betah, tidur tidak tenang, mau menyusul ke mana? Sekarang datang utusan dari Mataram.

Parasnya kusut ketika menemui Tumenggung Suryabranta. Ia kian bingung mendengar perintah eyangnya. Juga khawatir. Ada wigati apa sampai eyang panembahan nimbali suaminya? Bagaimana ia harus memberi jawaban, sementara demang Dinar tidak di rumah. Mengatakan sakit; dan minta diundur barang dua atau tiga hari? Panembahan Senopati tentu murka.

“Sebaiknya aku bilang Kangmas Dinar sedang ke luar kota,” kata Latri dalam hati namun dibantahnya sendiri. “Pergi ke mana? Masak sebagai istri sampai tidak tahu suaminya pergi.”

Latri menggetuni malam itu mengizinkan suaminya pergi. Hatinya selalu waswas dan sekarang ia sendiri menghadapi persoalan rumit. Lebih baik aku terus terang apa adanya kepada paman Suryabranta, demi nama baik kakang Dinar, dan apapun akibatnya aku hadapi ---  tekat Latri yang akhirnya menjadi tenang.

“Paman tumenggung. Sungguh saya sangat menyesal bahwa sementara ini tidak mungkin saya menaati titah eyang panembahan. Suami saya, kangmas Dinar, semalam pergi untuk suatu urusan penting. Dan belum kembali sampai paman tumenggung datang.”

Tumenggung Suryabranta mengangkat alis. Ia mencoba menghubungkan kepergian itu dengan cerita Darsi kepadanya. Demang Dinar, malam-malam, pergi sendirian. Ke mana?!

“Maafkan jika hamba kurang trapsila. Hamba diutus khusus oleh gusti prabu kemari. Jika sang prabu menanyakan kemana Demang Dinar pergi, hamba menjawab bagaimana?”

Dengan wajah lusuh Latri memandangi Tumenggung Suryabranta. Kemudian menghela napas panjang. Lama ia menatap tumenggung yang ia tahu seorang pejabat yang jujur, setia, dan tegas. Ia kudu terbuka. Tidak boleh ada yang ditutupi.

“Tidak baik kiranya kalau saya menyembunyikan sesuatu kepada paman, apalagi datang panggilan dari eyang panembahan di Mataram.”

Tumenggung Suryabranta mengangguk-angguk. Ia mengira cucu sang prabu ini berkenan membuka tabir suaminya. Bagaimanapun tumenggung ini menaruh simpati—baik terhadap Mila Banowati maupun putrinya, Latri Dewani—ibu dan anak ini halus budi pekerti, santun, ramah terhadap siapa pun termasuk kawula alit. Ia mengucap puji syukur, jika Latri mau terbuka padanya.

Kasinggihan gusti putri. Lebih baik cablaka. Hamba juga dapat menghaturkan laporan yang jelas kepada sri baginda.”