Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 096

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 096Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
24 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

096

Seorang pelayan datang. Menghidangkan wedang jahe serai panas beserta satu nampan makanan ringan. Percakapan terhenti sejenak, dan Latri memberi tanda agar pelayan itu cepat pergi. Tapi abdi dalem itu, seorang dayang berkulit kuning langsat, berusia dua puluh dua tahun, memandang bimbang kepada majikan putrinya.

“Ada apa Bingah?”

“Ampun kalau hamba mengganggu. Hamba hanya ingin melapor, bahwa Darsi tidak ada di tempat sejak malam tadi. Kami sudah mencarinya ke mana-mana.”

“Darsi?” Dahi Latri berkerut. Ia memang dari dulu tidak menyukai dayang genit itu.

Kalau saja hatinya tidak sedang rusuh, tentu Latri menaruh perhatian, atau setidaknya ia akan menghubung-hubungkan dengan gerak-gerik Darsi yang mencurigakan beberapa waktu ini. Tapi sekarang pikirannya kisruh; suaminya belum pulang; malah eyang panembahan mengutus Tumenggung Suryabranta agar ia segera menghadap ke istana.

“Kamu lapor saja kepada Lurah Pangarsa agar dicari. Pergilah.” Dayang muda itu undur dengan langkah jongkok.

“Paman, malam tadi terjadi sesuatu yang sangat mengerikan,” kata Latri pelan.

Tumenggung Suryabranta mengangguk. Ia sudah tahu dari Darsi.

“Paman tentu mendengar kematian aneh yang menimpa beberapa perwira di kademangan ini. Terakhir Lurah Branjangan.”

Tumenggung Suryabranta kembali mengangguk.

“Malam tadi, giliran saya sendiri yang diserang!”

“Gusti putri?” Tumenggung Suryabranta tersentak. Matanya memandangi seluruh tubuh Latri dari atas ke bawah. Tidak ada yang aneh. Latri segera tanggap.

“Memang saya selamat, paman tumenggung. Jika tidak ada Kangmas Dinar, kiranya pagi ini paman akan mendapatkan diriku serupa dengan Pranacitra dan Lurah Branjangan. Mati tanpa luka di tubuh.”

Tumenggung Suryabranta menarik napas berat.

“Beruntung saya baru diserang tangan dan kaki. Kangmas Dinar sedang meronda untuk menangkap entah manusia atau iblis yang melakukan serentetan pembunuhan keji. Belum berapa lama Kangmas Dinar pergi, mendadak lenganku berdarah. Untung Kangmas Dinar datang tepat pada waktunya sehingga saya tertolong. Rasanya paman paham kadigdayan suami saya, sahabat sekaligus saudara seperguruan paman Arya Damar,” ujar Latri bangga.

“Kangmas Dinar  pamit memburu iblis itu. Sampai sekarang belum kembali. Oleh karena itu, paman, sampaikan sungkem dan permohonan ampun saya kepada eyang panembahan dan kalau gusti prabu menghendaki saya seorang diri menghadap ke istana, saya siap kapan saja.”

Tumenggung Suryabranta bingung. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apa benar, cerita istri demang Tembayat ini? Tidak ada sedikit pun bekas luka, atau bekas darah di tubuh mulusnya. Lalu apa bukti kebenaran “dongeng” ini? Tentu saja ia tidak berani bertanya. Setelah sedikit berbasa-basi minum wedang jahe lalu mohon pamit. Dan ketika Panembahan Senopati di istananya mendengar laporan Tumenggung Suryabranta, ia tercenung. Beberapa kali sang prabu menarik napas dalam-dalam.

“Urusan di Tembayat sungguh ruwet. Baiklah kita menanti perkembangan selanjutnya.”

“Sendhika” Tumenggung Suryabranta kembali ke rumahnya di ndalem Suryabrantan.

Sementara itu, dengan galau Latri memanggil Lurah Pangarsa yang sudah separuh baya.

“Paman, ada tugas penting.”