Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 097

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 097Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
25 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

097

Dengan galau Latri memanggil Lurah Pangarsa yang sudah separuh baya.

“Paman, ada tugas penting.”

Lurah Pangarsa mengangguk hormat.

“Hamba sudah mendengar dari Bingah. Tadi malam Darsi pergi.”

“Persetan dengan Darsi,” seru Latri. “Aku tidak peduli Darsi ada atau tidak. Paman harus mencari Kangmas Dinar, semalam ia pergi, sampai sekarang belum kembali.”

“Gusti Demang Dinar?” Lurah Pangarsa menatap junjungan putrinya dengan kaget.

“Ya. Kangmas Dinar memburu entah manusia entah iblis yang melakukan pembunuhan terhadap Pranacitra dan Lurah Branjangan.”

Lurah Pangarsa termangu-mangu. Ia harus mencari ke mana?!

“Aku sendiri tadi malam jadi korban,” kata Latri.

“Gusti putri?” Lurah Pangarsa kembali terkejut.

“Ya. Lenganku berdarah. Tapi tenang saja. Betapapun digdayanya pembunuh pengecut itu, siapapun orangnya, tentu tidak mampu mengalahkan gustimu demang. Kangmas menguber iblis itu entah ke mana, maka aku minta paman menyusulnya.”

Lurah Pangarsa mengangguk.

“Hamba yakin, entah manusia jahat entah siluman, pasti dapat ditangkap oleh Demang Dinar atau Pangeran Arya Damar yang sakti mandraguna.”

“Benar! Sekarang gustimu demang belum pulang. Aku cemas, bukan khawatir Kangmas Dinar kalah. Paman paham kan, manusia jahat tentu banyak tipu muslihat. Paman ajak anak buah untuk melakukan penyelidikan, dan jika diperlukan paman harus siap membantunya.”

“Sendhika gusti putri.” Lurah Pangarsa berdiri tegak. Ia pembantu setia dan sejak Dinar menjadi demang ia sudah menjadi orang kepercayaannya.

“Apapun yang terjadi dengan diriku di kademangan ini paman tidak perlu mencampuri. Paling penting bagaimana paman bisa menemukan Kangmas Dinar.”

Sesudah Lurah Pangarsa pergi, Latri termenung. Wajah suami tercinta terbayang-bayang. Wedang jahe serai di baki keburu dingin tanpa disentuh. Begitu pula kacang rebus; uwi; gayam; gembili; lerut; ganyong; cengkaruk serta jagung sama sekali tidak dijamah.

 

*******

CELAKA Ki Lurah. Orang itu benar-benar sakti. Hancur sudah rencana kita.”

Lurah Kertapati menatap tajam Watugeni dan Watupati yang berlarian terengah-engah; wajahnya basah keringat membuat kumis sekepal sebelah itu tampak lucu; hilang sudah sikap bengisnya. Di belakang lurah muda itu sekelompok prajurit rata-rata berperawakan tinggi besar bersenjatakan golok, pedang dan trisula. Sekilas mereka seperti perampok, namun sesungguhnya inilah pasukan khusus bentukan Pangeran Purwawisesa yang dikomandani Lurah Kertapati.

Beda dengan anak buahnya, Lurah Kertapati berperawakan sedang; berdada bidang; dan perut slim. Kulitnya halus bersih, wajah tampannya selalu tersenyum ramah, sorot matanya tajam seperti elang. Kalau para prajurit membayangkan kekuatan fisik; Lurah Kertapati mencerminkan kadigdayan. Senjatanya juga tidak aneh-aneh, hanya keris terselip di pinggangnya. Ia murid Resi Tunggul Manik, yang cepat melejit karir keprajuritan di Mataram, kemudian dengan rayuan dan iming-iming upaboga, lurah cerdas itu masuk dalam lingkar kekuasaan Pangeran Purwawisesa.