Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 098

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 098Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
28 September 2020 00:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

098

“Kakang Watugeni dan Watupati,” ujarnya tenang berwibawa. “Tidak sepatutnya kalian tokoh-tokoh ampuh tenggelam dalam kegelisahan. Tunjukkan sikap perwira. Gentar merupakan pantangan terbesar bagi orang-orang sakti macam kalian. Betapapun buruknya kenyataan harus dihadapi dengan tenang serta waspada. Ayo kakang berdua, kalian ceritalah dengan lerem. Tidak ada apa-apa di sini. Bicaralah yang jelas.”

“Maaf ki lurah, kami memang salah,” ujar Watugeni separuh menjilat.

“Tidak masalah. Nah, ceritakan apa yang membuat kalian ketakutan. Di istana, Pangeran Purwawisesa sudah mendengar tewasnya Lurah Branjangan, tentu keberhasilan gurumu, beliau memang mumpuni. Berita baik itu mengapa kalian sikapi dengan lari terbirit-birit?”

“Malam tadi, bertepatan hari respati, guru bersiap-siap membinasakan dua orang penting di Tembayat. Pertama, Lurah Branjangan, memiliki posisi strategis di kademangan. Dan kedua, Dinar Saka, demang yang menurut guru cukup digdaya.”

Laporan Watugeni ditanggapi dengus sinis seorang kakek enam puluh tahunan, yang merupakan paman guru Lurah Kertapati. Bentuk badannya kerempeng, matanya lebar dengan sorot ganjil. Dia saudara seperguruan Resi Tunggul Manik bernama Resi Kamayan. Sejenak Watugeni saling berpandangan dengan Watupati.

“Guru menugaskan kami untuk menyelidiki hasil usahanya di dekat rumah demang.”

Lurah Kertapati mengangguk-angguk.

“Malam itu kami melihat dua ekor kalong terbang pulang dari rumah Lurah Branjangan. Agaknya usaha guru sukses. Kemudian muncul seperti bayangan hantu terbang mengikuti dua kelelawar dari bawah.”

“Siapa itu?” tanya Lurah Kertapati.

“Demang Dinar. Dia benar-benar digdaya. Kelelawar besar disambit tepat kena sayapnya. Juga dari rumah kademangan tidak ada jeritan.”

“Wiku Suragati gagal?” Lurah Kertapati kelihatan kecewa.

“Guru mengubah siasatnya. Sasaran berikutnya bukan demang Dinar melainkan istrinya yang terhitung lemah.” Kembali terdengar dengus menghina dari Resi Kamayan.

“Teruskan laporanmu.” Lurah Kertapati tidak memedulikan sikap paman gurunya.

“Kami tergopoh-gopoh mengikuti larinya demang Dinar dari kejauhan karena ia seperti terbang membayangi kelelawar.” Para prajurit berseru kagum. Namun lagi-lagi terdengar suara mencela dari Resi Kamayan. Bagi Lurah Kertapati, seseorang “terbang” seperti itu bukan aneh. Pamannya mampu melakukan, termasuk dia sendiri. Itu cuma ilmu meringankan tubuh.

“Lanjutkan!” ujar Lurah Kertapati yang tidak puas melihat pasukannya ribut-ribut.

“Ketika kami berdua sampai di pondok, betapa sedih dan terkejutnya kami Ki Lurah.”

“Kalian melihat apa?”

“Pondok guru luluh lantak. Seperti kena prahara. Arca Batara Kala yang sangat dihormati oleh guru, juga menjadi kepingan-kepingan batu. Di halaman guru bertanding mati-matian, dan sepertinya guru mengalami luka di lengan,” tutur Watupati.

“Gurumu bertanding dengan Dinar?”

“Benar Ki Lurah.”

“Bagaimana akhir pertandingan itu?” Lurah Kertapati semakin tertarik.

“Kami sebenarnya hendak membantu guru. Namun tidak keburu. Sekali kena pukulan, guru kami terkapar. Guru mencoba berdiri, tapi tidak mampu, agaknya ada tulang yang patah.”

“Murid pengecut!” dengus Resi Kamayan dengan pandang mata menghina.