Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 099

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 099Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
28 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

099

“Murid pengecut!” dengus Resi Kamayan dengan pandang mata menghina.

“Kemudian, ahhh, kemudian..” Watugeni bergidik ngeri.

“Terbunuhkah gurumu?” Lurah Kertapati bertanya sedikit khawatir.

“Kami sering melihat pembunuhan. Namun, yang membikin kami ngeri, Dinar membuat boneka dari tanah lempung menyerupai guru. Lalu, lalu ia … terbang.”

“Terbang ke mana?” Lurah Kertapati terperangah. Seampuh-ampuhnya manusia, belum pernah ia mendengar orang dapat terbang, kecuali memiliki kadigdayan setingkat dewa seperti Prabu Airlangga, Patih Narada, juga barangkali guru dari Panembahan Senopati. Itu pun masih berupa dongeng. Ia belum pernah melihat sendiri. Resi Kamayan juga mulai tertarik.

“Benar terbang! Bukankah engkau melihat dia terbang kakang Watugeni?”

“Betul! Dia bersila dalam jarak lima meter dari guru. Kemudian tubuhnya melayang ke arah guru, mencabut beberapa helai rambutnya, dan kembali terbang masih dalam keadaan sama seperti ini.” Watugeni menirukan gerakan Dinar bersila.

Lurah Kertapati mengangguk-angguk. Walau sekarang paham yang dimaksud “terbang” itu, toh terbersit rasa kagum juga. Melompat (bukan terbang) dalam posisi bersila bagaimanapun hal yang tidak mudah. Berbeda dengan Resi Kamayan yang kembali mendengus, seakan semua yang diceritakan kakak beradik itu bukan hal baru dan biasa-biasa saja.

“Teruskan laporanmu.”

“Kemudian, ia melakukan persis sebagaimana dilakukan guru selama ini. Ia mengambil patrem; menusuk paha boneka; dan guru mengaduh kesakitan. Darah bercucuran meskipun guru tidak mengalami luka.” Cerita ini membuat ngeri para prajurit yang saling berdecak.

“Kalian sendiri bagaimana?” Resi Kamayan bertanya sinis.

“Kami kamitenggengen. Kaki kami serasa lumpuh.” Watupati menjawab jujur.

“Huh!” ejek Resi Kamayan. “Dari awal aku sudah mengira, wiku sombong gurumu itu hanya pandai membual. Mana mampu menandingi murid Begawan Sempani?”

“Semua itu tidak penting,” ujar Lurah Kertapati yang tidak menginginkan paman gurunya semakin menghina Watupati-Watugeni, bagaimanapun mereka masih diperlukan tenaganya.

“Paling penting bagiku apa yang dikatakan gurumu menjelang kematiannya? Coba ingat kembali gurumu mengatakan apa?”

“Dinar mengancam guru. Kami yang mendengar ancamannya ikut ngeri.”

“Mengancam bagaimana?”

“Guru akan disiksa habis-habisan jika tidak jujur mengatakan siapa yang menyuruhnya melakukan pembunuhan-pembunuhan di Tembayat.”

“Lalu sikap Wiku Suragati?”

“Guru pada saat-saat menjelang kematiannya tetap berpegang teguh kepada kesetiaan. Ia mengatakan yang menyuruhnya adalah Raden Rangga,” Watugeni yang cerdik itu berbohong. Ia dan adiknya berada dalam kesulitan besar jika mengatakan yang sebenarnya. Di sini ada Lurah Kertapati yang kondang sakti; puluhan prajurit sangar; juga Resi Kamayan yang kadigdayannya tentu tinggi.

“Raden Rangga? Ha-ha-ha, bagus. Wiku Suragati, andika gugur sebagai seorang datuk. Meski gurumu meninggal, namun rencana Pangeran Purwawisesa tetap berjalan, ha-ha-ha.”

Lurah Kertapati menoleh ke Resi Kamayan yang mendengarkan pembicaraan itu dengan raut dingin. Tidak ada kesan apapun di wajahnya.

“Paman, apakah murid Begawan Sempani itu mengenalmu?”

Resi Kamayan menggeleng.