Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 100

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 100Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
29 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

100

Resi Kamayan menggeleng.

“Hubunganku dengan Begawan Sempani tidak dekat,” jawabnya singkat.

“Bagus! Memang untuk kepentingan ini aku memerlukan bantuan paman.” Lurah muda itu duduk di akar pohon beringin. Para prajurit, termasuk kakak adik Watugeni-Watupati, ikut berjongkok mengelilingi. Mereka mendengarkan strategi Lurah Kertapati yang akan digunakan untuk menghadapi Dinar, yang bukan tidak mungkin akan dibantu Pangeran Arya Damar. Hanya Resi Kamayan yang berdiri menjauh lalu duduk di atas batu hitam dengan muka acuh.

*******

DINAR sama sekali tidak mengetahui Latri (dan dirinya) dipanggil menghadap ke istana, dan lebih tidak menyangka ada sepasukan prajurit dipimpin Lurah Kertapati (ditemani oleh Resi Kamayan) akan menghadangnya. Ia berjalan siang malam melewati beberapa hutan lebat menuju Mataram. Di sepanjang perjalanan, ia melihat keadaan masyarakat cukup makmur. Rumah para warga layak huni; wastra mereka bersih; wajah paman petani riang gembira; tubuh bocah-bocah gemuk sehat terpenuhi nutrisi. Ia menghela napas, dan harus mengakui bahwa di bawah ampuan Panembahan Senopati, Mataram naik daun. Bintang kerajaan sedang terang.

Sampai di kota raja, Dinar tidak berani unjuk diri, memilih bersembunyi di lebatnya alas. Baru malamnya saat bulan sepotong di langit ia menyusup di antara gedung megah para pejabat, langsung mencari istana Pangeran Purwawisesa. Malam itu sunyi karena hujan rinai semenjak lepas asar. Suasana ngelangut ini justru menyenangkan hati Dinar. Semakin sepi semakin baik. Ia hendak menculik Pangeran Purwawisesa dan dipaksa mengakui niat makarnya. Kejengkelannya terhadap pangeran ini belum reda, bahkan amarahnya kian meluap. Ia teringat betapa pangeran ini yang menjadi biang segala urusan; juga mencemarkan nama baiknya; bahkan nyaris istrinya tewas. “Aku tidak akan melukainya. Hanya memaksa mengakui kesalahannya.”

Dinar tidak menduga bahwa fitnah terhadap dirinya semakin “viral” sebab desas-desus yang ditebar oleh Darsi sudah mendahuluinya sampai istana. Juga kepergiannya, bahkan ia tidak berada di rumah, telah terdengar oleh sang prabu. Di dalam tiga empat hari ini, di Tembayat, tak ada lagi pembunuhan mistrius. Hal ini dikait-kaitkan dengan kepergiannya tanpa seorang pun mengetahui ke mana arahnya. Semakin yakin hati orang-orang yang tidak suka padanya, bahwa Dinar yang melakukan tindakan keji itu.

Dinar juga tidak mengira saat itu barisan pendem siaga menangkapnya. Para perwira menerima berita sandi yang dikirim oleh Lurah Kertapati, bahwa, ada kemungkinan Dinar menuju Mataram. Gedung istana Pangeran Purwawisesa seperti biasa dijaga sangat ketat oleh pasukan khusus.

Karena memang sengaja dibiarkan masuk, malam itu dengan mudahnya Dinar meloncat ke taman yang dikelilingi tembok tinggi. Sesungguhnya Dinar curiga, mengapa ia dapat begitu gampangnya menyusup ke istana, tapi kesadaran itu terlambat. Begitu kakinya menginjak lantai ruangan depan, terdengar bentakan menggelegar:

“Tangkap pembunuh!”

Seketika ia dikurung puluhan prajurit bersenjata lengkap. Obor-obor dipasang. Suasana remang berubah terang benderang. Dinar terkejut, ia akan membuka mulut, tapi diurungkan.