Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 101

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 101Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
30 September 2020 23:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

101

Dinar terkejut, ia akan membuka mulut, tapi diurungkan.Ia paham, percuma bicara apa saja. Para pengawal ini tentu kaki tangan pangeran yang entah dapat kabar dari siapa bisa mengendus kedatangannya.

“Pangeran Purwawisesa. Keluarlah kalau engkau laki-laki Sura mrata jaya mrata. Jangan jadi pengecut. Aku sudah tahu niatmu memberontak Mataram. Engkau tidak mungkin menjadi putra mahkota.” Teriakan Dinar disambut segala macam senjata yang menyerang bertubi-tubi. Terpaksa Dinar merobohkan lima orang prajurit. Ia hendak nekat masuk, dan menangkap Pangeran Purwawisesa, akan tetapi dari dalam berlompatan lima orang pengawal pilihan dipimpin oleh Tumenggung Suryabranta sendiri yang memegang tombak pusaka.

“Demang Dinar, engkau sungguh keterlaluan. Di Tembayat engkau melakukan tindakan tidak terpuji. Gusti prabu mengganjarmu dengan jabatan demang, engkau masih tidak puas? Dan sekarang engkau mengancam Pangeran Purwawisesa. Apa sebenarnya maumu ini?”

“Paman tumenggung. Dengar baik-baik. Bukan aku, melainkan Pangeran Purwawisesa yang menjadi biang keladi segala …”

“Tutup mulutmu yang berbisa!” Tumenggung Suryabranta menerjang dengan tombaknya tapi hanya sedikit miringkan tubuh Dinar berhasil mengelak, dan sekali tangannya bergerak akas, ia menangkap tombak yang didorong kuat sehingga tumenggung tua itu terjengkang roboh. Lima orang pengawal bersama-sama menubruk dengan senjata masing-masing.

“Kalian tidak mau mendengar omonganku? Biarkan aku menghadap gusti prabu, kubuka kedok Pangeran Purwawisesa yang berniat memberontak,” seruan Dinar disambut para lawannya dengan tebasan golok, pedang dan trisula.

Hampir semua orang membencinya karena yakin dialah penyebar maut di kademangan sendiri, malah kini hendak membunuh Pangeran Purwawisesa pula. Para musuhnya menghujani Dinar dengan berbagai macam senjata. Dinar mundur-mundur karena ia sama sekali tidak akan melukai siapapun. Ia kemudian mengeluarkan ajian Gelap Ngampar, dan dengan pekikan marah lima orang pengawal terguling roboh.

Menggunakan kesempatan selagi musuh-musuhnya masih kena pengaruh Gelap Ngampar Dinar melompat ke belakang. Seorang prajurit melontarkan tombak, Dinar dua kali berjungkir balik, ujung kakinya menyentuh landean tombak yang melenceng dan menancap di pohon pule. Pangeran Purwawisesa  keluar dari gedung dan berdiri tegak dengan muka marah. Tangan kanan pangeran itu memegang keris, seolah dengan senjata itu mampu melawan Dinar.

Dinar ingin meringkus Pangeran Purwawisesa, tapi jaraknya terlampau jauh, apalagi di depannya banyak prajurit dengan sikap melindungi. Bahkan lima pengawal yang tadi roboh kini maju dengan memegang tombak baru. Begitu pula Tumenggung Suryabranta merangsek sambil memberi aba-aba.

“Bedebah,” geram Dinar. Di Mataram memang tidak boleh sembrono.

Dinar menarik napas panjang. Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan. Bagaimana ia mampu melawan sekian puluh prajurit pilihan; belum lagi jika pasukan pembantu datang. Siapa tahu Panembahan Senopati juga hadir, dan, Pangeran Arya Damar?! Lebih baik ia segera pulang, menceritakan semuanya kepada Latri yang bagaimanapun adalah cucu kesayangan gusti prabu.