Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 102

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 102Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
01 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

102

Dinar menggigit bibir dengan gemas. Betapa kecewanya. Usaha menculik pangeran tidak berhasil justru sekarang dikurung rapat. Ia menjadi marah, mengeluarkan ajian Gelap Ngampar, beberapa prajurit kembali roboh. Ia hanya mengandalkan kaki dan tangan. Sekali tangkis, golok terlempar, tombak patah, pedang beterbangan. Para pengeroyok tidak berani mendekat, mereka hanya mengacung-acungkan senjata, sementara Dinar terus berloncatan menggunakan bahu dan kepala para prajurit sebagai “landasan”-nya. Dengan susah payah Dinar tiba di luar istana.

“Tangkap pembunuh!” Teriakan ini saling sahut, mereka terus mengejar, namun sia-sia. Bagaikan bayangan hantu tubuh Dinar berkelebatan. Ia tidak berniat membunuh, hanya sekadar membuat lawannya pening atau paling parah tulang patah. Kemudian ia melompat di antara sela pohon-pohon besar, lenyap ditelan malam. Hujan masih rintik; keadaan gelap pekat; namun para prajurit terus sibuk mencari sampai jauh. Suara mereka berisik, membuat takut para penduduk yang mengunci diri di dalam kamar.

Terengah-engah Dinar berhenti di dalam alas jati, berteduh di bawah pohon besar. Dinar merasa penat sekali: lelah lahir, lelah batin. Sepuluh tahunan ia seperti dikurung di kademangan Tembayat, hari-harinya diisi dengan tugas sebagai demang yang tidak ada habisnya. Kadang blusukan ke desa-desa yang permai, dan bercengkerama dengan istri tercinta. Dinar tak pernah berkelahi atau adu fisik. Perkelahian melawan Wiku Suragati benar-benar menguras energinya, ditambah perjalanan panjang ke Mataram, ditambah pengeroyokan di istana yang membuatnya capek luar biasa.

Sepuluh tahun hidup bahagia, aman tenteram nyaman di samping Latri yang penuh kasih melayani. Kini menghadapi persoalan demi persoalan yang menjengkelkan hati; batinnya lelah sekali. Dinar bersandar batang jati; tak berapa lama ia tertidur meski air hujan satu dua menetesi kepalanya melalui celah daun yang rimbun. Dua jam ia pulas beristirahat menyandarkan penat. 

Hatinya, entah kenapa, diselimuti kekhawatiran besar saat melanjutkan perjalanan pulang ke Tembayat. Ia dapat membayangkan betapa gelisahnya Latri yang malam itu ia tinggal nyaris tanpa pamit; kemudian sekian hari ia tidak balik. Tentu Latri semakin risau jika mendengar detik detik terakhir Wiku Suragati memberikan “testimoni”. Siapa nyana Pangeran Purwawisesa, ya, paman Latri itulah yang berada di balik semua kekacauan.

Hari jelang senja ketika Dinar tiba di pintu gerbang selatan kademangan Tembayat. Tiba –tiba terdengar suara emprit gantil; burung paling licik yang dikenal pula sebagai emprit kedasih. Indukan jantan dan betina burung jenis itu --- setelah puas kawin --- tidak pernah mau membuat sarang sebagai tempat bertelur; memilih menitipkan telur pada sarang burung-burung lain yang lebih kecil, tanpa memberi imbalan apapun. Maka sepantasnya mendapat julukan burung pokil.

Terlepas licik atau culas, yang pasti tidak patut emprit gantil berbunyi jelang surup. Itu sandi yang digunakan para pengawal Latri. Jantungnya berdegup semakin kencang. Secepat kilat tubuhnya melompat ke kanan. Suasana remang-remang tapi mata Dinar yang sangat permana melihat bergeraknya tubuh seseorang di galengan sawah yang menguning.