Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 103

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 103Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
02 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

103

“Gusti demang,” Bayangan itu memanggil lirih, suaranya merintih.

Dinar meloncat. Tampak seseorang merangkak dari galengan dengan susah payah.

“Gusti demang!”

“Lurah Pangarsa!”

Dinar menghampiri orang kepercayaannya itu yang langsung menubruk kakinya.

Ahh, engkau Kakang Pangarsa. Mengapa engkau di sini, dan ehhh … engkau terluka. Siapa yang melukaimu Kang?” Hati Dinar seperti ditusuk pisau; indra ke enamnya bekerja; dan ia memiliki panggraita tajam melebihi sembilu. Tentu sesuatu yang dahsyat terjadi di rumahnya.

“Gusti demang …. Bencana menimpa gusti putri. Beliau ditangkap prajurit Mataram.”

“Latri ditangkap? Kenapa?”

“Gusti putri dituduh melindungi gusti demang. Dituduh memberontak terhadap Mataram Apalagi gusti demang menyerang istana Pangeran Purwawisesa, dan melukai para prajurit.”

Dada Dinar mengkap-mengkap. Kakinya menggigil. Istrinya ditangkap. Latri didakwa bersekutu dengan dirinya untuk makar terhadap Panembahan Senopati. Kegilaan macam apa ini. Tapi Dinar segera menguasai diri. Ia tidak boleh larut dalam emosi.

“Gusti putri dibawa ke mana?” Dinar merasa ngeri mendengar suaranya sendiri. Seperti suara orang lain; suara yang terasa asing bahkan untuk dirinya sendiri saat itu.

“Awalnya datang sepasukan prajurit Mataram hendak menangkap gusti putri. Menurut komandannya atas perintah langsung dari Panembahan Senopati. Gusti putri tidak percaya, dan masuk kamar mengambil cundrik, lalu melawan. Hamba, hamba membela mati-matian, tapi kena tusuk tombak di dada kiri, aduhhhh…hamba tidak kuat lagi, gusti …..”

Dinar berjongkok. Memegang pundak lurah setia ini menyobek bajunya. Dadanya terluka parah. Ia tahu, pembantu istikamah ini tidak akan tertolong nyawanya. Lukanya terlalu dalam.

“Kang, ke mana Latri dibawa?”

“Kata sang komandan, gusti putri akan dimasukkan penjara. Gusti demang sebaiknya lari karena…karena gusti juga akan ditangkap. Tinggalkan hamba di …sini. Hamba tidak kuat…”

Lurah Pangarsa jatuh di tanah. Tubuhnya kaku.

“Kang…kakang Pangarsa…” Dinar tahu, panggilannya kali ini tidak akan dijawab.

Lurah Pangarsa meninggal dalam melaksanakan tugas. Ia sepatutnya mendapat anumerta. Dinar merebahkan kepala lurah ke atas tanah, kemudian berdiri mematung. Istrinya ditangkap; dibui; dipenjara; gara-gara siapa?! Pangeran Purwawisesa!

“Hmmmmm” Dinar menggeretakkan gigi. Ia harus membebaskan istrinya. Untuk hal itu, ia siap mengorbankan nyawa. Ia harus menyerbu penjara istana; persetan dengan seluruh prajurit Mataram yang sekali ini pasti mengepungnya agar tidak lolos lagi. Persetan pula gusti prabu jika benar yang memerintahkan penangkapan. Lalu, Pangeran Arya Damar?! “Aku yakin, sahabatku itu pasti membelaku; setidaknya beliau tidak akan turut campur,” kata Dinar dalam hati.

Latri tidak bersalah! Semua orang harus tahu ini. Latri tidak berdosa. Dan kalau hasrat menangkap (bukan membunuh) Pangeran Purwawisesa dianggap dosa; baiklah dia sendiri yang berdosa dan siap menanggung akibatnya. Jangan kait-kaitkan dengan istrinya.

“Yayi Latri…” Dinar terperenyuk di galengan dengan wajah masai. Berdekatan dengan mayat Lurah Pangarsa. Matanya basah: Dinar menangis.Ya, Dinar menangis. Baru kali ini dalam sepanjang hidupnya Dinar runtuh waspa.