Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 104

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 104Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
03 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

104

“Kang, kakang Pangarsa, terima kasih atas pembelaanmu. Engkau mempertaruhkan diri dan nyawamu demi Latri. Maaf, kang, aku tidak dapat mentadbirkan ragamu karena aku harus membebaskan istriku. Selamat tinggal kakang Pangarsa.” Dinar meloncat bangun. Wajahnya beringas. Air matanya diseka dengan ujung baju. Pandang matanya berkilat saat ia melesat jauh ke depan. Tujuannya jelas: Mataram.

“Awas engkau Purwawisesa!” ancam Dinar.

Sepuluh tahun menjadi cucu mantu Panembahan Senopati, tentu saja Dinar hafal situasi istana Mataram, dan tahu di mana letak kamar tahanan. Ruang khusus narapidana ini merupakan gedung besar di belakang kelompok bangunan, terbuat dinding batu yang kuat, dikelilingi taman.

****

MALAM itu suasana terasa ngelangut-ngelangut tintrim di lingkungan istana. Dinar yang berkelebat melalui genteng di atas wuwungan melihat ketatnya penjagaan, bahkan tampak pula prajurit berseragam khusus yang biasanya tidak pernah muncul: celana hitam, baju hitam dengan sulaman emas. Itulah pasukan khusus pengawal raja lingkaran pertama. Dinar tidak ambil peduli bahkan dengan kepandaiannya ia berhasil menyelinap dilindungi gelapnya malam, sampai tiba di dekat ruang tahanan setelah melewati Kamandhungan; Sri Manganti; Kedhaton; Kamagangan; dan Balairung yang jamak untuk pisowanan ageng.

Dari atap wuwungan ndalem Ageng Proboyakso, ia mengintai. Rumah tahanan persis di depannya. Ketika Dinar mengintai, ia terperanjat melihat banyaknya prajurit memenuhi latar di muka pintu. Sekilas dalam perhitungannya tidak kurang tiga ratus prajurit; kemeruyuk seperti semut merubung bangkai kecoa. Tidak hanya di pekarangan banyak pula prajurit di atas wuwung yang siap dengan busur dan anak panah. Semua ini hanya untuk mengamankan seorang wanita: Latri Dewani. Cucu perempuan Panembahan Senopati itu sendiri. Bukan main.

Pada satu sisi Dinar kesal penjagaan yang super ketat. Namun, jauh di lubuk hati terselip rasa bangga. Hanya “sekadar” mengamankan seorang perempuan harus melibatkan demikian banyak pengawal, betapa sangat bernilai istrinya yang cantik itu.

“Mataram sepertinya siaga menerima kedatanganku. Hmm. Kalau aku nekat menyerbu ke gedung tahanan, sendirian menghadapi begitu banyak prajurit, apa aku tidak konyol? Tapi, jauh dari Tembayat mengapa harus menyerah?” Dinar menggeretakkan gigi. Apapun akibatnya, entah apa yang akan menimpa dirinya, ia harus dan harus membebaskan istrinya. Siapapun orangnya, termasuk gusti prabu, tidak boleh mengurung Latri Dewani, kecuali melewati mayatnya. Ibunda mertua, Mila Banowati, apa yang dilakukan putri Panembahan Senopati itu mengetahui anak kandungnya dikarantina seperti itu?!

Dinar termenung. Ia tidak mau gegabah asal menyerbu. Bukan karena takut, ia tak peduli keselamatan diri, mati bukan apa-apa baginya. Tapi ia harus mampu membebaskan istrinya, dan ini mana mungkin terlaksana kalau ngawur dalam bertindak. Ia harus cerdas. Setelah merenung lama, tubuhnya melayang turun di bagian yang tidak dijaga. Ia mengendap-endap menelusuri lorong di bagian kanan gedhong perpustakaan.

(Satu jam kemudian)

“Kebakaran! Kebakaran!” seru penjaga yang melihat asap hitam berkepul-kepul.

“Air! Air!”

“Ayo bantu padamkan api. Cepat sebelum membesar.”