Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 105

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 105Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
04 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

105

Seorang perwira berteriak keras ketika melihat anak buahnya tersebar panik.

“Hee. Jangan semua pergi. Sebagian tetap di sini.” Perwira berkumis tebal melintang itu mengatur para prajurit dengan tegas. Situasi menjadi terkendali, dan hanya dua puluh lima orang yang bekerja keras memadamkan api.

(Tiga puluh menit kemudian)

“Kebakaran! Kebakaran!”

“Api! Api!”

Tampak asap berkepul-kepul. Kini di gedhong purworetno agak dekat istal.

(Sepuluh menit sesudahnya)

“Kebakaran! Kebakaran!”

“Api! Api!”

Tampak asap berkepul-kepul. Sekarang api di gedhong perbekalan.

“Ayo bantu. Cepat. Kebakaran di mana-mana.”

“Dapur juga kebakaran!”

Kini perwira kumis melintang tidak mampu mencegah anak buahnya lari berserabutan ke segala arah. Kepanikan terjadi dengan hebat. Para prajurit tersebar seperti semut disiram air. Ada satu di antara prajurit yang memisahkan diri menuju perigi, agaknya hendak mencari ember atau ingin buang air kecil, tiba-tiba menerima pukulan yang tepat mengenai leher di bawah telinga.

Ngekkk!”

Prajurit itu pingsan. Dinar buru-buru melucuti seragam surakarsa lalu ia rangkapkan pada pakaian luar. Tubuh prajurit itu bongsor, namun karena pakaian itu dipakai di luar pakaiannya sendiri, maka tidak tampak kedodoran. Rambut ikalnya tersembunyi di dalam topi. Dinar tampil sebagai prajurit tampan. Dengan tombak rampasan, Dinar ikut berlarian ke sana-sini.

Ia hanyut dalam pusaran prajurit yang campur aduk membuat samarannya tidak kentara. Situasi semakin tidak terkendali. Lima gedung terbakar secara terpencar. Rumah tahanan walau dijaga namun longgar karena para prajurit sibuk memadamkan api. Dengan sikap tegak Dinar menjaga di depan jendela bilik tahanan. Tombak dipegang kuat-kuat layaknya prajurit rendahan.

Begitu ada kesempatan, Dinar membuka daun jendela dari kayu jati. Terali baja sebesar ibu jari di belakang jendela yang berjejer rapat, bagi Dinar, bukan masalah. Jemarinya masuk di sela-sela jeruji; dan sekali tangannya mementang, dua batang ruji terkuak, bahkan besi di bagian atas yang menancap di kayu tebal ikut terlepas. Bagai emprit gantil Dinar melompat, dan tidak lupa menutup daun jendela dari dalam. Cepat ia berlari ke dalam ruangan.

“He kawan, mau apa ke sini?” Tiba-tiba muncul empat orang sipir.

“Ki lurah menyuruh melihat apakah Gusti Latri masih di tempat. Di luar ada lima gedung terbakar. Apa kalian tidak mendengar ribut-ribut di luar?” Dinar balik bertanya. “Ki lurah cemas, tahanan kita dilarikan orang.”

 “Mana mungkin? Kami menjaga sangat ketat. Tidak ada siapa-siapa di sini selain kami. Silakan melihat sendiri, kawan.”

Keadaan di sekitar kamar tahanan yang hiruk pikuk membuat para sipir sebenarnya turut panik. Masuknya prajurit yang dalam keadaan wajar tentu dianggap mencurigakan, tapi mereka tidak berprasangka buruk. Bersama empat petugas penjara, Dinar dibawa ke sebuah kamar paling belakang. Dinar sekilas melirik: hanya sepuluh orang prajurit. Ia menjadi tenang.

“Itu Gusti Latri. Situasi aman terkendali. Apa kau kira siluman iblis yang menjadi……”

Ngekkkkkk!” Sebuah pukulan telak mengenai ulu hati prajurit yang memakinya sebagai siluman. Pingsan.