Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 106

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 106Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
05 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

106

Tiga orang kawannya terkejut; namun tiga kali tangan Dinar menampar; terdengar suara mengaduh dibarengi bunyi gedebugan. Mendengar ribut-ribut, enam petugas lain datang. Inilah yang diinginkan oleh Dinar.

Ehh, ada suara apa di …” Salah satu di antara mereka bertanya. Dan Dinar “menjawab” dengan gerakan kaki serta tangan yang luar biasa cepatnya. Nyaris berbarengan, enam pengawal roboh semua.

“Kangmas ….”

“Yayi …..”

Mereka berlekapan; saling dekap erat seakan takut terberai.

“Aku tahu, kangmas tidak akan tinggal diam membiarkan istrimu dikeram di sini seperti tikus. Benar aku cucu raja, tapi …” Latri mencium mesra suaminya.

“Maafkan Yayi, maafkan kakangmu ini membuatmu sengsara, semua gara-gara ..”

Hush!” Latri menutup mulut suaminya dengan bibirnya yang lunak. Mereka berpagutan.

“Kakang tidak pernah salah. Biar seluruh Mataram menistamu, bagiku kakang lah orang paling baik di dunia ini,” ujar Latri terengah-engah dengan muka merah. Berahinya bergelora.

“Tapi, benarkah kangmas menyerbu istana paman Pangeran Purwawisesa?”

“Nanti kakang jelaskan semuanya. Ingat, Yayi masih seorang tahanan. Kita belum bebas. Yang penting sekarang kita cepat keluar dari sini.”

Latri teringat “status”-nya dan mukanya memandang sang suami penuh kecemasan. Pada keadaan biasa, tentu ia menertawakan Dinar yang terkesan jenaka (meski tetap gagah) memakai seragam prajurit yang sedikit kebesaran. Mereka biasa bercanda; saling goda; tapi biasanya Latri yang tidak pandak (konsekuen-pen) karena lalu mencubit, menggigit dan berujung pada ciuman.

“Sebaiknya Yayi menyamar sebagai prajurit,” kata Dinar sambil melirik para pengawal yang terkapar malang melintang dalam keadaan tidak sadar diri. Latri ikut menjeling.

Sendhika kakang. Bantu aku mengenakan pakaian prajurit.”

Dinar cekatan menanggalkan pakaian seorang prajurit yang kebetulan memiliki bentuk tubuh hampir sama dengan Latri. Pada saat itu, pintu depan digedor-gedor dari luar. Terdengar teriakan keras seorang perwira memaki-maki kasar.

“Para pengawal di dalam, cepat buka pintu. Kalian tuli, pekak, budek, kopoken? Keparat ayo buka pintu ini goblok!”

Dinar memegang erat lengan Latri yang halus lembut itu.

“Cepat, Yayi.”

Dinar menarik tangan istrinya menuju jendela yang kisinya sudah “dipengkang” tadi. Di belakang jendela terdengar suara gaduh para prajurit. Pintu depan terus digedor-gedor. Sekarang bahkan mulai didorong oleh banyak orang.

“Ayo, Yayi. Lewat jendela ini,” bisik Dinar.

“Tapi kakang… banyak prajurit. Bagaimana kakang nanti ..?”

Mata Dinar berair. Luar biasa istrinya ini. Benar-benar garwa “sigaring nyawa” karena dalam situasi seperti itu masih mencemaskan dirinya, dan tidak menghiraukan keselamatan diri sendiri. Ingin Dinar mencium mulut Latri saat itu. Baginya mati tidak soal, asalkan Latri selamat.

“Yayi tidak perlu khawatir. Bersama Yayi tidak ada apapun yang perlu ditakuti.” Dinar mengerahkan ajian Rog-rog Asem. Kedua tangannya menghantam jendela sekeras-kerasnya.

“Blarrrr!” Jeruji-jeruji baja itu patah.

“Loncat ke punggungku Yayi. Aku gendong supaya lari kita lebih cepat.”