Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 108

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 108Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
07 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

108

Dinar berdiri gagah di atas genteng. Segera ia dikeroyok oleh puluhan orang prajurit dan kembali mengamuk. Bedanya sekarang yang melompat ke atas genteng adalah perwira, termasuk Lurah Kertapati yang datang terlambat. Dinar mengeluh dalam hati. Tidak mungkin ia sendiri melayani begitu banyak orang berkepandaian lumayan. Sementara fajar menyingsing. Ia tidak lagi dilindungi oleh gelapnya malam. Matahari bersiap-siap menjenguk cakrawala. Bagaimana ia mampu melarikan diri keluar dari kota raja yang baginya seperti neraka itu? Namun apapun Latri harus dilindungi. Harus, harus dan harus!

“Yayi tutup telingamu rapat-rapat,” bisik Dinar. Istrinya mengangguk dan paham bahwa suaminya akan mengeluarkan ajian yang nggegirisi: Gelap Ngampar.

Dinar memekik dahsyat, lengkingannya mengatasi semua suara hiruk pikuk para prajurit. Beberapa pengawal roboh bergulingan di atas genteng terus ke bawah. Yang lain kaget, tersentak mundur, dan peluang ini digunakan Dinar melompat ke atas genteng gedhong sumewa sebelah kanan dapur istana. Banyak anak panah bercuitan di kanan kiri bawah atas, namun tidak satu pun mengenai sasaran.

“Dahsyat,” puji Lurah Kertapati. “Demang itu benar-benar sakti.”

Resi Kamayan tidak menjawab. Tangan kanannya memegang sebatang anak panah yang direnggut dari seorang prajurit pemanah. Sebentar ia memusatkan perhatian, kemudian sebatang gendewa itu disambitkan dengan luncuran deras sekali ke arah Dinar yang merasakan tubuh Latri di atas punggungnya menegang.

“Yayi, ada apa?” bisik Dinar cemas.

“Ti..tidak apa-apa Kangmas,” suara Latri tercekat. “Ayo lekas pergi kakang, lekas…”

Dinar kembali melompat tinggi menuju atap gedhong pusaka. Jika ia berhasil sampai di atas gedung tempat menyimpan pelbagai tombak serta dhuwung bertuah itu pasti aman. Pada sisi selatan gedung itu penuh pohon besar. Musuh akan kesulitan untuk mengeroyok.

“Ahhhhh!” Dinar mengaduh. Sebatang anak panah amblas menancap di dada kirinya.

“Kangmas, kangmas terluka?” Latri berteriak cemas.

“Ya. Tidak apa-apa. Aku masih mampu lari,” bisik Dinar lemah.

Suami istri perkasa itu berlarian dari genteng ke genteng. Dua bayangan mengikuti di belakangnya. Jarak mereka sudah kian dekat. Mendadak muncul bayangan lain yang jauh lebih gesit menghadang dua orang tadi.

“Lurah Kertapati. Biarkan mereka pergi,” perintah penghadang itu.

“Pangeran Arya Damar.” Lurah Kertapati mengangguk hormat. Ia memang perwira yang menjadi orang kepercayaan Pangeran Purwawisesa. Junjungannya sendiri sangat takut dan begitu hormat dengan Pangeran Damar, bagaimana ia tidak segan?!

“Hentikan pengejaranmu.”

“Tapi, mereka, ehh, demang itu membawa lari tahanan..”

“Engkau dengar perintahku?” Pangeran Arya Damar bertanya dengan nada tinggi.

“Sendhika pangeran.” Lurah Kertapati menunduk dalam-dalam.

“Serahkan urusan ini padaku.”

“Sendhika. Ampun pangeran, bagaimana jika gusti prabu …”

“Rama prabu yang mengutusku. Aku yang akan melapor langsung kepada rama.”

“Sendhika pangeran.” Lurah Kertapati merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

“Kembalilah ke pasukanmu,” Perintah Pangeran Arya Damar yang kemudian perlahan melangkah ke arah larinya Dinar. Ia tidak akan mengejar sahabatnya itu.