Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 109

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 109Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
08 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

109

“Bagaimana ini paman?” tanya Lurah Kertapati kepada Resi Kamayan yang sama sekali  tidak menjawab. Resi itu hanya mengangkat bahu dengan wajah tidak mengesankan apapun. Ia mengerti, bahwa dua anak panah yang disambitkan telah mengenai sasarannya dengan tepat.

Sementara itu Dinar mempercepat larinya. Para pengejar tertinggal jauh. Ia amat penat. Mereka sudah berhasil keluar dari dinding kota raja Mataram, terus berlari ke hutan jati. Latri, ya Latri istri setianya itu mengapa tubuhnya terasa lemas?

“Kita selamat Yayi. Puji syukur kepada sang hyang widi.”

“Ya Kangmas. Sekarang kita dapat beristirahat.”

“Sebentar lagi Yayi. Kita harus masuk hutan baru benar-benar aman.” Dinar berlari terus bagaikan terbang. Sampai di tengah hutan, dengan terengah Dinar berhenti. Keringat membasahi wajah tampannya. Dinar mencoba tersenyum walau mukanya pucat.

“Kangmas, aku ….aku rasanya tidak kuat lagi…”

“Apa Yayi?” Wajah Dinar semakin pias. Ia rasanya tidak berani menurunkan Latri dari gendongan. Ia sendiri terluka parah, dan hampir bisa dipastikan nyawanya tidak akan tertolong. Tapi Latri, ya Latri, istri tercintanya harus selamat. Mengapa mengatakan sudah tidak kuat lagi?! Jangan-jangan …. Dinar takut meneruskan dugaannya.

“Yayi, aduh Yayi, engkau terluka?”

Latri tersenyum dengan muka seputih kertas.

“Aku, ahh, punggungku sakit kangmas…”

Dinar pelan-pelan menurunkan Latri yang sudah lungkrah.Dapat dibayangkan rasa cemas menampaki punggung istrinya tertancap anak panah melesak sampai hampir pangkalnya.

“Yayi…” Dinar merebahkan Latri di atas tanah lalu berlutut memeriksa. Seluruh bulu di tubuhnya berdiri ketika melihat betapa anak panah itu agaknya menembus celah-celah tulang iga. Sama seperti dirinya. Lontaran anak panah yang dilambari tenaga sangat kuat membuat amblas batang gendewa sampai gagangnya.

“Yayi Latri …” Dinar memeluk istrinya, garwanya, juga ratu baik posisi dalam keluarga (garwa padmi, permaisuri) maupun status sebagai cucu langsung dari Panembahan Senopati.

“Istriku…” Dinar benar-benar menangis. Terisak-isak seperti anak kecil. Sang pendekar perkasa yang tidak takut mati, akhirnya kembali ke kodratnya sebagai manusia biasa yang tidak pernah jauh dengan air mata.

Sekali pandang Dinar mengerti istrinya tidak dapat tertolong jiwanya,  bahkan oleh tabib tingkat dewa sekalipun. Ujung gendewa melukai jantung. Jika dicabut akan semakin cepat Latri meninggalkannya. Meninggalkannya? Bukankah ia sendiri tidak mungkin selamat?!

“Yayi Latri, istriku ….”

Latri merangkul erat leher Dinar, dan sekarang ia melihat anak panah menancap dalam di dada kiri suaminya. Tadi ia terlampau lemas; pandang matanya kabur; ia tidak memerhatikan suaminya yang terluka seperti dirinya. Keduanya sama-sama mengerti usianya tak akan lama.

“Kangmas, engkau terluka parah?”

Mereka beradu muka. Dinar tidak menjawab. Bibir Latri dikecup. Tangannya yang kokoh mengelus rambut istrinya yang hitam gemuk Rasanya belum lama mereka melakukan hal seperti ini di kamarnya yang asri penuh bunga mewangi. Suasana hati mereka sama. Yang membedakan adalah sekarang mereka sama-sama di perbatasan maut.