Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 112

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 112Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
12 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

112

Kemakmuran Tembayat tidak lepas dari perilaku demangnya yang berbudi bawa laksana; semanak; ramah terhadap siapapun tanpa mengagulkan pencitraan. Perbawanya cemlorot sampai ke daerah luar Tembayat. Demang Martapura ibarat sinar matahari yang menyorot ke delapan penjuru tiada memilih bulu. Bersikap tegas memberantas kejahatan disertai petuah kembali ke jalan benar bagi yang tersesat; dan memberi hukuman bukan atas dasar kebencian.

“Bukan manusianya yang dihukum. Tapi perilaku kejahatannya,” kata demang anom usia belum paruh baya namun memiliki kawicaksanaan seorang sepuh yang sepi ing hawa (napsu) itu Baginya, bekerja bahkan menjalani hidup hanya dengan satu pamrih yakni mengabdikan dirinya kepada hyang widi dengan menebar kasih antarmanusia. Takhta benar-benar untuk masyarakat.

Pagi itu matahari menepati janji untuk hadir lebih dini. Paman petani tidak begitu suntuk seperti pada musim panen. Masa tandur baru saja lewat. Padi mulai tumbuh ngrembaka. Mereka hanya menjaga dan merawat tanaman supaya tidak kekurangan atau kelebihan air; tidak diusik hama dan suket teki. Mereka duduk di dangau menggusah barabah dengan wajah bungah.

Serombongan orang berkuda keluar dari gapura kademangan. Sepuluh orang prajurit dan seorang pria tampan memacu kudanya ke barat. Paling depan adalah lelaki gagah yang naik kuda putih; berpakaian sederhana; dan berwajah tenang: Demang Martapura.

“Hari masih pagi. Udara begitu cerah. Kita nikmati barokah hyang widi,” kata Demang, sambil melirik ke kiri. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, menunggang kuda berbulu dawuk. Meski masih bocah tapi jelas membayangkan sifat ksatria dengan sikap tegak di pelana, muka menatap lurus ke depan, dan di pinggang kiri tergantung pisau bersarung kulit. Beberapa kali demang itu memandangi putranya penuh kasih dengan senyum bahagia.

“Hati-hati menjaga Lohgawe, kangmas. Anak kita memang tidak nakal. Dia sangat taat menjalankan semua perintah kita. Tapi, namanya juga bocah, kadang muncul sikap bandel,” kata istrinya yang pagi itu kelihatan laksana Dewi Sri yang dipuja kaum petani untuk memberkahi sawah mereka. Kecantikan Gayatri memang awet; tidak pernah berubah; tidak bertambah tua di usia hampir empat puluh tahun. Tubuhnya langsing dan sekal.

“Jangan cemas Yayi. Kami tidak lama berburu. Biarkan anak kita mendapat pengalaman dengan mendekatkan diri pada alam,” Demang Martapura mencium istrinya dengan lembut.

“Anak itu terlalu kecil untuk diajak berburu. Hutan Tambakbaya terkenal angker, banyak binatang buas, dan siapa tahu ada perampok.” Gayatri dalam hati kecilnya tidak setuju suaminya pergi membawa Lohgawe yang masih kanak-kanak.

“Yayi, apa yang engkau cemaskan? Anak itu mampu menjaga dirinya sendiri. Aku akan selalu mengawasi. Keadaan Mataram aman tenteram. Dengan sepuluh pengawal, rasanya tidak ada penjahat berani mengganggu. Dan, jika sampai muncul harimau, tentu aku sendiri yang akan menghadapi..”

“Kangmas.  Jangan sebut-sebut harimau. Aku ngeri.”

Ha-ha-ha. Engkau menjuluki aku macan Tembayat. Bagaimana Yayi takut harimau?”

Gayatri, sesuai namanya (cantik) mengerling manja dengan kedua pipi kemerahan tanpa gincu.