Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 113

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 113Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
13 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

113

Ia sekilas melirik para pengawal yang sudah siap mengiringkan junjungannya itu berburu. Kalau mereka sedang berduaan di dalam kamar, biasanya gurauan lalu “berlarut-larut” menjadi godaan dan berujung pada andon asmara.

Yowis kangmas. Pergilah tapi jangan sampai sore. Jaga Lohgawe dan dirimu baik-baik.”

“Sendhika, Yayi.” Demang Martapura bersikap tegak layaknya prajurit memberi hormat atasannya. Keduanya tertawa, dan para prajurit ikut tersenyum. Di kademangan, suasana dibuat santai sehingga mereka yang bertugas di dapur; abdi dalem; para dayang juga pengawal; semua bekerja dengan hati. Tugas seberat apapun tidak terasa membebani.

Sekarang rombongan itu menjalankan kuda perlahan-lahan melewati tegalan yang penuh rumput hijau. Tiga ekor kerbau asyik memamah suket tebal. Hewan-hewan gemuk itu nggayemi. Tiba-tiba Demang Martapura menarik kendali kudanya, diikuti Lohgawe dan para pengawalnya. Mereka mendengar suara orang menembang Asmaradana dengan suara sedikit sengau:

Nora suwe wong urip iki lelana ing alam donya. Tan rinasa pira lawase. Weruh-weruh sugih uwan. Nora suwe mesthi sirna. Cilik gedhe cendhek dhuwur wekasane mesthi palastra.”

“Benar!” gumam Demang Martapura.

“Sugih malarat sami, menang kalah nora beda. Yen wis titiwanci, kabeh bali marang asal. Mula yen isih doyan sega, aja nuruti angkara. Urip pisan sing sampurna.”

Demang Martapura mengangguk-angguk dengan rawan hati. Matanya menerawang jauh. Hidup adalah penerimaan tentang batas sebagaimana kehidupan itu sendiri fana. Setelah itu lalu munajat. Keikhlasan migunani tumraping liyan; kerelaan laku dharma; itu merupakan pengakuan mengenai keterbatasan. Dan nun di hilir, hyang widi yang akan mengubah limitasi.

“Lohgawe, engkau tahu tembang itu?”

Bocah sepuluh tahun itu mengangguk.

“Tembang Asmaradana. Kata-katanya sederhana.”

Demang Martapura tertawa.

“Bahasa dan kata hanya kulit. Justru kesederhanaan itu mengharukan. Mencari pujangga besar tidak perlu jauh-jauh ke kota raja. Dia yang memahami akan keterbatasan, dia yang prasaja tanpa direka-reka, di mana orang hidup tidak menjadi abdi nafsu, di situlah sejatining urip.”

“Aku tidak mengerti rama.”

“Kelak, jika engkau sudah dewasa dalam segala hal, ingatlah kesederhanaan dalam syair Asmaradana tadi, anakku.”

“Kapan aku dewasa?”

Demang Martapura tertawa berderai.

“Engkau menjadi dewasa setelah bergumul, kadang manis kadang pahit, dengan dirimu.”

Lohgawe mengangguk meski dahinya berkerut.

Seorang kakek berpakaian serba hitam, dengan wastra sederhana, muncul dari pategalan. Kepalanya dipenuhi uban namun kulit wajahnya kemerahan dan sorot matanya polos berseri-seri. Ketika melihat rombongan sang demang berhenti di pinggir sawah, tergesa-gesa ia menghampiri dan berjongkok menghaturkan sembah.

“Paman sedang menggembala kerbau?” Demang Martapura bertanya ramah.

“Benar gusti Demang.”

“Kerbaumu itu paman?”

“Bukan. Yang dua ekor milik Prajuno.”

“Juraganmu?”

“Anak menantu hamba.”

Demang Martapura mengangguk-angguk.

“Yang satu ekor lagi?”

“Milik anak hamba.”

“Paman hanya menggembalakan?”

“Benar gusti. Mereka sibuk dengan pekerjaannya. Hamba hanya membantu saja.”