Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 115

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 115Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
15 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

115

“Jangan bunuh ular itu paman. Kita pelihara di rumah.”

Lohgawe selalu memperingatkan para pengawal setiap mereka akan membunuh ular untuk dimasak dan diambil kulitnya.

“Kita masuk lebih dalam lagi. Lohgawe, jangan terlalu cepat memacu kudamu. Mungkin kita benar-benar akan bertemu macan,” pesan Adipati Martapura kepada anaknya.

Ia penasaran. Matahari bersiap angslup. Berarti mereka harus segera pulang sesuai janji terhadap Gayatri. Lalu, ke mana saja harimau di hutan seharian ini, apa mereka sedang rapat? Para pengawal menjalankan kudanya pelan-pelan. Mereka khawatir kalau sampai kemalaman. Belum pernah demang Martapura berburu ngelantur seperti sekarang ini.

“Bagaimana jika gusti putri marah?” pertanyaan ini hanya ditabung di dalam hati.

Demang Martapura mengeprak kuda merangsek ke jantung hutan yang sangat rungkut, diikuti Lohgawe. Para prajurit berbaris di kanan kiri dan belakang. Mereka memiliki beban tugas berat yaitu turut menjaga keselamatan Lohgawe yang masih anak-anak.

Mendadak kuda demang Martapura meringkik aneh. Kedua kaki depannya ke atas.

“Tenang, tenang.” Demang itu mengelus leher kudanya. Ia tahu persis watak kudanya; juga penciumannya yang sangat peka.

“Harimau,” bisik Demang Martapura gembira. Sekilas ia melihat Lohgawe.

Tidak berselang lama terdengar auman keras --- meski tanpa pelantang --- tapi suaranya menggetarkan seluruh rimba raya. Lohgawe mendekatkan kudanya ke arah ramandanya. Mereka semua turun. Lohgawe mendekati ayahnya, matanya memandang ke kanan kiri karena gerengan macan itu sukar diterka dari mana datangnya. Bocah itu merasa seolah-olah di sekelilingnya ada puluhan harimau saling mengaum. Bersahut-sahutan.

Tanpa dikomando para pengawal menyiapkan tombak panjang. Mereka berpencar masing masing menyelinap di antara belukar, mengendap-endap untuk mengurung macan yang diduga berada di gerumbul alang-alang. Mereka melempari semak-semak serta mengeprak-eprak dengan tombak sambil berteriak-teriak. Tak lama kemudian, terdengar auman dahsyat, tampak menongol kepala seekor harimau bagur sebesar anak lembu. Macan lamdahur.

Lohgawe memandang dengan mulut celangap. Jantungnya berdebar-debar, bukan takut, melainkan tegang-tegang sedap. Sejak balita Lohgawe ditempa sedemikian rupa oleh ayahnya. Tidak ada rasa takut menghadapi apapun, termasuk bertemu macan segede kerbau ini.

“Harimau itu sangat besar. Tentu buas sekali. Tapi di sini ada paman pengawal, dan ayah tentu mudah meringkusnya.” Lohgawe sekecil itu mampu menilai keadaan. Tapi macan itu ganas

“Siapa takut?!” Lohgawe memandang penuh perhatian. Tidak ada alasan ia takut. Dalam hati justru hendak melihat dengan mata kepala sendiri kadigdayan ramanya yang selama ini ia dengar dari dongeng para prajurit. Sekarang ini, ya saat inilah ia bisa menyaksikan sendiri dan menyimak gerakan-gerakan ayahnya ketika nanti “perang tanding” dengan macan.

“Harimau itu membawa anaknya.” Tiba-tiba saja Lohgawe setengah berteriak. Ia melihat kepala macan gembong itu menunduk lenyap ke dalam belukar, kemudian tampak lagi, dan kini harimau betina jagur itu menggigit punggung seekor harimau kecil.