18 Tahun Bom Bali, I.B Shakuntala Luncurkan Mengejar Angin Pusar

18 Tahun Bom Bali, I.B Shakuntala Luncurkan Mengejar Angin PusarPeluncuran dan bedah novel Mengejar Angin Pusar / ist
15 Oktober 2020 20:27 WIB Sugeng Pranyoto Hiburan Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Tepat pada 12 Oktober 2002 Bom Bali I terjadi di Pulau Dewata. Tepat 18 tahun kemudian, tepatnya Senin (12/10/2020), seniman forensik I.B Shakuntala meluncurkan novel dengan judul Mengejar Angin Pusar.

Peluncuran sekaligus bedah novel Mengejar Angin Pusar itu dilaksanakan di Kabar Baik Eatery, Ngabean Wetan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Karya  I.B Shakuntala itu ikut dibedah bersamaLexy Rambadeta (jurnalis peliput bom Bali) dan Fajar Nugros (sutradara film).

Novel itu sendiri ditulis dengan latar belakang kejadian yang merenggut ratusan korban jiwa tersebut. “Sebuah kisah yang terpendam hampir dua dasawarsa yang luput dari liputan media massa mana pun. Semoga kali ini Anda tidak meluputkannya,” kata Shakuntala dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Kamis (15/10/2020).

Menurut Shakuntala, memisahkan dan menghubungkan adalah kunci dalam hidup ini. Berbahagialah mereka yang sadar bahwa semua materi yang eksis di muka Bumi ini semuanya terhubung, tak terpisahkan. Tuhan, alam, dan manusia adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. “Saya pernah bertanya, apa yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Bali? Jawabannya adalah Selat Bali. Lalu pertanyaan saya ganti, apa yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali? Jawabannya sama: Selat Bali,” katanya.

Bagi masyarakat di Pulau Bali yang mayoritas memeluk agama Hindu akan lebih memahami hal itu dalam ajaran Tri Hita Karana. Secara pribadi Shakuntala memahaminya sebagai Tri Tunggal. “Jika saya menuliskan nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran itu, maka saya akan kehabisan kata-kata sebab pemahaman manusia terbatas, dan hanya akan terjebak pada definisi-definisi yang tak mudah dipahami. Sains dan teknologi pun tidak sanggup memecahkan misteri terbesar alam, sebab di akhir penelusuran, kita sendiri,  manusia adalah bagian dari misteri yang akan dipecahkan. [Max Planch, fisikawan],” ujarnya.

Ruang dan Waktu

Karenanya, Shakuntala menuliskannya dalam bentuk sebuah novel Mengejar Angin Pusar, agar nilai-nilai itu memiliki ruang dan waktu. “Tidak tanggung-tanggung, novel ini saya tempatkan dengan latar belakang peristiwa yang mendunia Bom Bali I.” katanya.

Menurut Shakuntala, dengan membaca novel tersebut pembaca akan memahami mengapa tragedi itu terungkap dalam waktu yang relatif singkat. “Ya, karena yang kelihatan dan tak kelihatan, semua terhubung, memberi tuntunan, melalui misteri-misteri kebetulan yang terbentuk oleh pesan-pesan tersembunyi melalui tanda-tanda alam, interaksi antar manusia, dan campur tangan dewata,” ujarnya.