Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 116

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 116Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
16 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

116

“Lohgawe!” Sia-sia sang demang mencegah anaknya berteriak. Harimau itu kaget, lalu mengeluarkan gerengan, dan sekali tubuhnya bergerak sudah melompat jauh ke depan.

Seorang pengawal dengan berani mencoba menghalau sang macan kembali ke belukar. Tapi harimau betina itu menggerakkan kaki depannya menangkis ujung tombak.

Kraaakkk!” Tombak patah dan prajurit itu terpelanting. Macan itu kembali berlari.

“Biar kupanah.” Demang Martapura berseru dilambari aji-aji Alas Kobar. Seruannya ini membuat harimau terkejut, dan menengok ke belakang.

“Jangan rama!” Lohgawe berteriak. Tapi terlambat. Pada detik yang sama, anak panah itu menyambar, semula mengarah leher macan namun karena menoleh kini telak menembus perut harimau kecil yang digigit punggungnya. Anak harimau itu meronta keras, terlepas dari gigitan induknya, dan macan betina itu melompat masuk ke rimbunnya dedaunan, meninggalkan raung seperti ratap tangis seorang ibu kehilangan bayinya.

Lohgawe memandang ayahnya dengan mata merah. Sambil terisak, Lohgawe berlari ke harimau kecil yang terpanah perutnya. Melihat sendiri macan balita imut itu berlumuran darah, karena “kadigdayan” ayahnya. Beberapa saat Lohgawe termenung. Ia mendoakan semoga arwah macan nirdosa itu masuk nirwana. Memang hanya doa yang ia bagikan kepada diam. Selebihnya adalah harapan dan empati. Bukankah Tuhan bersahabat dengan diam.

“Rama! Apa yang engkau lakukan?” Suara Lohgawe mengandung kemarahan. Dan duka.

“Apa yang aku lakukan?” Demang Martapura mengulang dengan bingung.

“Apa salah anak harimau itu?” Lohgawe memandang ayahnya dengan tajam.

Demang Martapura menaruh tangan di atas pundak anaknya. Mulutnya tersenyum pahit.

“Tak ada niatku memanah anak harimau. Yang kuincar induknya. Engkau teriak. Macan itu kaget. Panahku mengenai perut anaknya. Maafkan ayahmu ini Lohgawe. Ayah bersalah.”

Pelan-pelan, Lohgawe menepiskan tangan sang ayah dari bahunya.

“Hari ini aku mendapatkan dua pengalaman berbeda. Pagi tadi, aku bangga menjadi anak Demang Martapura, yang migunani tumraping liyan. Dengan ikhlas rama memberi sedekah. Itu jalan dharma. Namun, sore ini, aku..aku, ahhh…”

“Anakku, engkau kecewa dengan sikap ayahmu yang, sekali lagi aku ulang, secara tidak sengaja dan di luar harapanku anak panah itu membunuh macan kecil. Engkau masih marah?”

Lohgawe menggeleng. Matanya basah.

“Tidak rama.”

Cuaca mulai gelap. Demang Martapura mengajak rombongannya pulang. Mereka tidak memacu kudanya karena sang demang tampaknya tidak tergesa-gesa. Di atas pelana kuda, baik demang Martapura maupun Lohgawe sama-sama menunduk dengan muka durja. Sang demang menyesal gegara membunuh anak macan secara tidak sengaja, Lohgawe kecewa. Sedangkan Lohgawe sedih membayangkan nasib tragis anak macan, dan betapa nelangsa hati induknya. Duka bukan monopoli manusia.Para pengawal merasakan suasana kaku, mereka memilih diam.

Tiba-tiba terdengar auman luar biasa dahsyatnya. Gerengan kali ini jauh lebih menggiriskan dibanding tadi. Semua kuda, termasuk jaran demang Martapura dan bidak Lohgawe, meringkik ketakutan, berdiri di atas kaki belakangnya dengan gemetaran, malah beberapa di antaranya meloncat kabur.