Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 117

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 117Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
17 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

117

Si Dawuk yang ditunggangi Lohgawe juga berdiri di atas kaki belakang, meringkik, lalu melompat jauh. Lohgawe nyaris jatuh, dan buru-buru mendekam sambil memegangi kendali dengan kuat. Ia tidak mampu mengendalikan tunggangannya.

“Lohgawe…” Demang Martapura memanggil-manggil anaknya dengan panik.

“Rama!” Lohgawe tengkurap di atas pelana kuda yang berlari tanpa tujuan.

Para pengawal juga bingung karena kuda mereka menjadi binal. Apalagi terdengar suara gerengan kedua kali, tanpa ada yang mampu mencegah semua kuda berlarian ke pelbagai arah. Demang Martapura meninggalkan kudanya yang berubah liar, lalu berlari menyusul Lohgawe.

Kuda tunggangan Lohgawe, entah lari ke mana, tidak tampak lagi. Dengan hati gelisah, demang Martapura menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk mengejar walau tidak jelas ke mana tujuannya. Hutan itu selain liar, rimbun dedaunan dan pohon-pohon raksasa, juga suasana gelap. Demang itu sekadar menduga mungkin Lohgawe dibawa lari ke barat, lalu ia menyusup di antara lebatnya alas gung liwang liwung.

Kuda Dawuk masih terus berlari, mendadak dari gerumbul semak belukar muncul seekor harimau setinggi kuda itu sendiri, berdiri di tengah jalan sambil menggereng. Aumannya tidak nyaring tapi anehnya bumi seperti gempa. Kuda Lohgawe seketika lumpuh, tidak mampu berlari, hanya melenguh seperti orang merintih. Melihat macan sangat besar dan berbulu panjang putih seperti perak, Lohgawe juga ngeri. Baru sekali ini dalam sepuluh tahun hidupnya ia merasa jeri.

Bagaimanapun darah pendekar mengalir deras di tubuhnya. Ayahnya tidak bersamanya. Ia harus menghadapi harimau itu sendirian. Lohgawe meloncat turun dan mencabut pisau belati sepanjang satu kilan lebih. Ia kemudian memasang kuda-kuda, kaki kanan di depan.

“Aku tidak boleh menyerah apapun yang terjadi.” Lohgawe mencoba menenangkan diri.

Harimau putih itu memandang bocah di depannya, mungkin terheran-heran, kepalanya miring ke kanan kemudian ke kiri, lalu membuka mulutnya yang besar memamerkan gigi yang panjang dan tajam. Lidahnya merah magenta, misainya bergerak-gerak kaku. Kemudian harimau itu sekali lagi mengaum keras membuat daun-daun kering rontok melayang-layang.

Lohgawe tidak gentar mendengar gerengan dahsyat itu. Ia bahkan melangkah maju, dan mencari akal bagaimana mengatasi bahaya yang sama sekali tidak terduga-duga ini. Ia tiba-tiba ingat busur dan anak panah yang tersandang di punggung. Tangan kirinya merayap tapi matanya tidak terlepas dari gerak gerik macan, sementara tangan kanannya masih erat memegang belati. Pelan-pelan Lohgawe berhasil mengambil busur, lalu tangan kanannya memasang anak panah, dan pisau digigit supaya setiap saat mudah digunakan. Kini ia menghadapi harimau dengan busur terpentang lebar, dan anak panah siap diluncurkan.

Harimau itu beberapa detik memandang Lohgawe dengan sorot mata aneh, lalu berjalan maju, langkahnya santai tidak menunjukkan sikap mengancam. Ia menghampiri Lohgawe yang segera menarik gendewa sampai melengkung dan begitu jarak dengan macan putih tinggal tiga meter ia lepaskan jemparing.

Singggg!” Dengan cepat anak panah menyambar ke muka harimau, antara kedua mata.