Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 119

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 119Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
20 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

119

Kurang berapa centi, saat ujung tombak hampir mengenai leher harimau, tiba-tiba sinar putih menyentuh tombak yang membuat arahnya melenceng: Bless. Tombak menancap ke dalam tanah, amblas sampai setengahnya lebih. Demang Martapura terkejut. Belum pernah sepanjang hidupnya ia bertemu macan putih sebesar kerbau, apalagi pandai “sihir” sehingga tanpa bergerak mampu menangkis serangan tombaknya.

“Hmmm,” gereng demang Martapura. Ia semakin marah saking gelisahnya melihat tubuh Lohgawe yang entah hidup entah mati. Keresahan wajar seorang ayah. Cepat bagai elang, tubuh demang itu mencelat ke harimau putih, dikerahkan ajian Brajamusti menyambar kepala harimau.

Dess!” Pukulan Brajamusti bertemu dengan benda putih, yang jelas bukan kepala macan Ketika demang Martapura memandang, harimau itu tetap mendekam seakan tidak merasakan ajian yang begitu dahsyat. Ia memandang sekeliling, dan melihat seorang kakek renta berambut panjang putih keperakan berdiri anggun di depannya. Tentu kakek ini yang menangkis tombak dan pukulanku, bisik demang Martapura kagum. Ia sekarang mengamati lebih teliti.

Kakek ini mengenakan kain putih bersih, dibelit-belitkan di tubuhnya yang kurus, tangan kanan memegang tongkat bambu kuning gading. Kakinya telanjang. Kepalanya juga telanjang. Alis, kumis, jenggot semua putih. Namun kulit mukanya segar kemerah-merahan tanpa keriput seperti seorang pemuda. Sepasang matanya bening dan terang, persis mata Lohgawe.

“Ki sanak, ilmumu tinggi. Mengapa engkau hendak membunuh harimau ini?”

Demang Martapura menjuling Lohgawe yang masih rebah menelungkup. Memang hanya sekilas, tapi sebagai seorang berpengalaman, ia tahu putranya tidak tewas, dan juga tidak terluka. Barangkali hanya pingsan. Hatinya menjadi lega. Kembali ia memerhatikan kakek itu. Ia paham sedang berhadapan dengan tokoh sakti, yang mampu menangkis pukulan Brajamusti.

“Tentu kakek ini yang memelihara harimau,” ujarnya dalam hati. Berarti musuh!

“Kakek,” Demang Martapura berkata halus, tidak nada tinggi, tapi mengandung protes.

“Tentu aku berniat membunuh macan jahanam ini. Dia hendak memangsa anakku.”

Kakek itu tersenyum. Wajahnya ramah menyejukkan. Namun sikapnya berwibawa.

“Taruh kata harimau itu benar-benar ingin memangsa putramu. Lalu mengapa engkau berniat membunuhnya?” tanya kakek itu masih dengan suara lunak.

Demang Martapura mengatupkan mulut. Wajahnya merah sekali. Kakek ini koplak, naïf, apa dungu? Mungkin senewen? Pertanyaannya sungguh menjengkelkan. Taruh kata macan edan ini akan memangsa Lohgawe, masih ditanya kenapa ia hendak membunuhnya? Pekok!

“Seorang ayah di mana saja tentu harus melindungi anaknya, dengan taruhan nyawa. Aku hendak membunuh macan jahat ini karena dia ingin memangsa putraku.”

Kakek itu tertawa. Tidak dibuat-buat. Tawanya wajar.

“Engkau menyebut jahat. Lalu jahat itu apa? Siapa yang lebih jahat, harimau inikah atau dirimu? Berbicara tentang kejahatan, rasanya engkau jauh lebih jahat dari macan putih ini.”

Demang Martapura naik pitam. Ia dimaki jahat, padahal kedudukan seorang demang itu mulia. Ini belum seberapa, karena ia tidak memuja jabatan atau takhta. Namun ia dibandingkan, bahkan dituduh lebih jahat dari harimau yang jelas-jelas ingin mencelakai putranya, kegilaan mana yang lebih gendheng dari ini?