Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 120

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 120Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
21 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

120

“Mungkin harimau keparat ini peliharaanmu, Kek, maka engkau membelanya. Aku, tidak peduli apa pangkatku, tapi dengan ringan engkau katakan lebih jahat dari macan. Ini menurutku sebuah penghinaan. Engkau sengaja menistaku, Kek?” Demang Martapura bersiap-siap berkelahi melawan kakek renta yang ia tahu tentu sakti. Ia tidak takut. Orang tak boleh menista seenaknya.

Kakek itu bersikap tenang seolah tidak mengerti ditantang berkelahi.

“Batu karang tidak berubah menjadi patung yang indah bernilai seni tinggi, jika tak dapat menahan sakit ketika pahat bekerja mengukirnya. Kebiasaan baik hanya muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan dibuang dari diri kita,” ujarnya seperti kepada diri sendiri.

“Aku tidak tahu engkau berpangkat apa, menjadi apa, dan bekerja sebagai apa. Yang aku tahu, engkau sama sekali tidak memiliki keadilan. Beruntunglah jika engkau kawula biasa. Apa jadinya jika engkau memegang kuasa, menjadi seorang demang misalnya, dan memimpin sebuah wilayah dengan kesewenang-wenangan tidak adil menerapkan kekuasaan? Celakalah rakyatmu.”

Demang Martapura terkesiap. Kakek itu mengatakan seandainya ia menjadi demang. Ini satu kebetulan belaka atau kakek itu tahu ia pengampuTembayat?  Ia juga dituduh tidak memiliki rasa keadilan.

“Baru saja engkau membunuh anak harimau ini. Namun engkau tidak merasa bersalah. Sekarang, harimau ini hanya menggondol putramu, mengajaknya bermain-main, dan engkau marah-marah hendak membunuhnya.” Ucapan kakek itu sangat mengejutkan. Macan itu mengajak Lohgawe bermain-main? Demang Martapura memandang harimau yang masih tetap tenang-tenang mendekam. Santuy.

Tentu macan sebesar kerbau ini harimau jantan yang menjadi ayah dari harimau balita, yang tadi secara tidak sengaja kena panah menembus perutnya. Beberapa detik sang demang itu termangu. Sebentar dipandang kakek di depannya, lalu beralih ke harimau putih. Namun ia tidak mau menyerah salah begitu saja. Bagaimanapun ia seorang demang.

“Kakek tua yang sakti. Anda benar. Namun barangkali anda lupa, bahwa aku ini manusia. Aku memang sedang berburu harimau, tidak ada yang salah dengan itu. Aku memanah induknya dan tidak sengaja mengenai anaknya. Bagaimana engkau menyamakan manusia dengan hewan?”

Kakek itu mengangguk-angguk. Suaranya lembut, tapi ucapannya bagai halilintar di hari terik. Wajah demang Martapura seketika pucat.

“Benarkah Hyang Widi menentukan hanya manusia yang diperkenankan berburu? Untuk apa engkau berburu? Untuk dimakan dagingnya, dan diambil kulitnya sebagai perhiasan?”

Demang Martapura membisu. Ia sadar telah sembrono menggantikan Hyang Widi dengan semacam regulasi.

“Andai engkau seorang demang, nah, apa di kademangan engkau kekurangan makanan, sehingga harus berburu di hutan? Apa engkau tidak memiliki sandangan yang baik selain kulit harimau atau ular? Engkau berburu untuk mengumbar nafsu. Sedangkan harimau berburu karena tuntutan hidup; harimau harus makan daging mentah guna memertahankan hidupnya. Sudah dari sananya, harimau ditakdirkan makan daging, bukan buah atau sayuran.”

Demang Martapura tidak bisa menjawab. Beberapa detik ia kebingungan.