Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 121

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 121Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
22 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

121

Demang Martapura tidak bisa menjawab. Beberapa detik ia kebingungan.

“Tapi, Kek, aku..aku manusia yang menjadi makhluk paling sempurna di semesta. Aku berburu, ehm, aku sekadar ikut-ikutan. Bukankah raja-raja dan para bangsawan juga sering berburu?” Demang Martapura mencoba berkilah membawa-bawa “adat” sebagai sandaran.

“He-he-he. Engkau berlindung di balik kebiasaan manusia, termasuk raja di Mataram pun suka berburu, begitukah? Kesalahan akan berubah kebenaran jika dilakukan semua orang, benar seperti itu? Ajaran seperti inikah yang engkau terima dari gurumu Kaki Sabdo Jati Among Raga, benar begitu?”

Pucat kucam wajah demang Martapura. Ia langsung menjatuhkan diri, timpuh. Kakek ini tahu semuanya. Tentu bukan senyampang jika kakek itu menyebut jabatan demang, apalagi nama gurunya, eyang Sabdo Jati Among Raga yang mulia, juga disebut dengan nada biasa.

“Ampunkan hamba, eyang. Hamba mengaku salah. Hamba sudah memanah anak macan. Bolehkah hamba mengetahui siapa gerangan eyang yang berbudi luhur ini?”

Kakek itu memandang tajam kemudian menghela napas dalam-dalam.

“Demang Martapura. Jangan engkau merendahkan diri di hadapan seorang petani biasa seperti aku. Engkau jangan berlebihan. Aku bukan pendeta; bukan pertapa; bukan wiku atau pun resi. Namaku Suryadharma tanpa embel-embel apapun. Berdirilah, dan mari kita bicara.”

Saat itu Lohgawe siuman. Ia membuka mata, teringat semua kejadian sore tadi. Ia masih hidup. Dan harimau putih itu mendekam di sebelahnya, sama sekali tidak kelihatan bermusuhan. Mata macan itu kehijauan; dan bulu-bulunya mengingatkan Lohgawe pada kucing Si Petak yang menjadi kesayangannya. Refleks Lohgawe mengelus leher sang harimau yang dengan jinak menjilati tangannya. Lohgawe tersenyum geli, dan ketika melihat ayahnya berada di situ bersama seorang kakek renta, ia berseru:

“Rama, lihatlah, harimau ini bagus sekali.”

Demang Martapura terharu. Dugaannya keliru. Harimau jantan itu kehilangan anaknya; tapi apa yang diperbuat? Membawa Lohgawe menghadap kakek sakti. Bukan ingin memangsa. Ia menarik putranya bersila di depan eyang Suryadharma yang kini duduk di atas batu hitam.

“Maafkan saya, eyang. Hari ini saya telah melakukan banyak kesalahan. Saya berjanji. Mulai saat ini saya tidak akan berburu binatang apapun di hutan.”

Kakek itu tersenyum sambil memandangi Lohgawe.

“Boleh berburu sepanjang berdasar keperluan. Memang hyang widi menciptakan semua yang ada di mayapada ini untuk manusia yang benar seperti engkau katakan tadi; makhluk yang sempurna. Manusia lapar lalu membunuh harimau untuk dimakan; ini sama wajarnya harimau menerkam rusa. Tentu beda, jika membunuh binatang sekadar kesenangan belaka, ini namanya merusak hukum alam,” kata kakek Suryadharma yang kembali memandangi Lohgawe.

“Demang Martapura. Pertemuan kita sudah ada yang mengatur. Hyang Widi pengaturnya bahwa putramu akan ikut bersamaku ke plawangan Merapi. Engkau harus tega melepaskannya, terkecuali engkau mengingkari daulat-Nya.”

Demang Martapura kaget sekali. Lohgawe menjadi murid kakek Suryadharma sakti ini?!