Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 122

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 122Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
23 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

122

Demang Martapura kaget sekali. Lohgawe menjadi murid kakek Suryadharma sakti ini?!

Ia dan Gayatri pasti sukacita. Tapi ikut bertapa di Plawangan? Mana mungkin? Ibu anak ini pun akan melarangnya. Bocah sepuluh tahun harus berpisah dengan ayah ibunya, sampai kapan?

“Ampunkan saya, eyang. Agaknya tidak mungkin saya dan ibu anak ini berpisah dengan Lohgawe yang masih kecil. Hanya dia anak satu-satunya. Istri saya tentu sangat sedih Lohgawe bertapa di Merapi.” Demang Martapura memegangi erat anaknya seolah takut direbut.

Kakek Suryadharma menarik napas panjang.

“Demang Martapura, engkau tahu kehendak Hyang Widi tidak dapat diubah. Siang tadi engkau memanah anak harimau, walau tidak disengaja. Perbuatanmu akan mendatangkan petaka, yang bakal merundung putramu. Sebaiknya engkau melakukan gusek karma, dengan cara putramu selama lima tahun ikut aku, menjadi muridku sekaligus sahabat Si Putih, menghibur hatinya yang kehilangan anak. Engkau suka?”

Kakek Suryadharma menoleh ke harimau putih yang menggereng lirih sembari mengibaskan ekornya. Matanya memandangi Lohgawe.

“Aku tidak memaksa. Semua balik padamu, Demang Martapura. Pikirkan baik-baik. Dan satu hal perlu kau ingat. Tidak berapa lama engkau harus pergi meninggalkan Tembayat. Adalah bijaksana jika engkau menitipkan putramu dalam asuhanku.”

Demang Martapura menunduk dengan muka keruh. Pikirannya butek. Ia memang salah telah memanah anak harimau. Tapi, atas kesalahan yang “tidak seberapa besar” itu harus ditebus dengan gusek karma?! Lalu Gayatri, bagaimana perasaan istrinya berpisah dengan Lohgawe?

“Ampunkan saya, eyang. Bagaimanapun saya harus minta persetujuan ibunya. Hari larut malam. Kami mohon perkenan untuk kembali.”

Kakek Suryadharma mengelus-elus kepala harimau putih.

“Seorang ibu menggendong anaknya untuk memeluk, menyusui dan membuatnya tidur. Seorang ayah menjunjung anak dan meletakkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia.

Engkau dengar kata-katanya. Demang ini berkeberatan melepaskan putranya, setidaknya untuk waktu ini. Memang tidak ada di dunia ini yang mementingkan diri pribadi seperti manusia.”

Harimau putih itu kembali menggereng namun kali ini tidak dengan mengibaskan ekor.

“Baiklah demang Martapura. Kita serahkan saja kepada takdir. Betapapun, suatu ketika Si Putih dapat mengantarkan putramu kepadaku. Kita berpisah di sini.” Kakek itu bangkit lalu pelan-pelan melangkah diikuti macan putih dari belakang.

“Paman sima!” Lohgawe berseru. Harimau itu menghentikan langkahnya, membalikkan badan. Lohgawe merangkul lehernya, dan macan itu merendahkan tubuh, menjilati pipinya.

“Paman sima. Engkau ikut bersamaku ke kademangan. Banyak daging segar di sana.”

Harimau itu menggereng perlahan, kemudian membalikkan tubuh, berlari-lari mengejar kakek Suryadharma yang terus berjalan tanpa menoleh. Lohgawe tampak begitu kecewa.

“Paman sima baik sekali. Dia tidak galak. Ingin aku bermain-main dengannya, Rama.”

Demang Martapura menarik napas panjang. Entah mengapa hatinya tidak enak. Ia merasa ada getaran aneh yang menghubungkan Lohgawe dengan kakek Suryadharma dan macan putih itu.