Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 123

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 123Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
24 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

123

Demang Martapura merasa ada getaran aneh yang menghubungkan Lohgawe dengan kakek Suryadharma dan macan putih itu.

Benarkah suratan takdir Lohgawe harus mengasingkan diri di Plawangan Merapi?

“Malam kian larut. Ibumu tentu cemas,” kata demang Martapura mengalihkan perhatian.

“Iyung pasti terkagum-kagum mendengar ceritaku tentang paman sima.” ujar Lohgawe.

Demang Martapura menggendong Lohgawe, kemudian mengerahkan ilmu meringankan tubuh, berlari menuruni busut. Hari jelang wayah sepi wong ketika mereka bertemu dengan para pengawal yang semalaman itu resah mencari-cari di dalam hutan. Rombongan kecil itu kembali berkuda yang berhasil dikumpulkan oleh para prajurit.

“Silakan hasil buruan dibagikan rata kepada rakyat di luar Tembayat,” kata demang itu.

“Gusti demang sendiri?” tanya salah seorang pengawal.

Demang Martapura menggelengkan kepala.

Para pengawal saling pandang tanpa berani membantah. Mereka susah payah sedari pagi sampai menjelang subuh di hutan Tambakbaya. Buruan macan lepas. Sekarang tiga ekor sanca, yang panjang gemuk, dagingnya harus dibagikan kepada warga yang tidak tahu apa-apa.

Begitu masuk halaman kademangan, Gayatri sudah menunggu di belakang pintu dengan senyum lega. Semalaman ibu muda yang masih kelihatan cantik itu hampir tidak memejamkan mata. Ia mengkhawatirkan keselamatan suami dan anak semata wayangnya.

“Iyung aku berteman dengan paman sima,” seru Lohgawe bangga.

“Lohgawe, biarkan ibumu menyiapkan minuman hangat. Aku haus,” ujar sang demang.

Gayatri sibuk di dapur bersama para dayang. Mereka membuat wedang jahe serai jeruk nipis. Sepagi itu pembantu belum ke pasar. Yang ada sekadar camilan semalam berupa ketela, jagung rebus, kimpul, uwi, kerut/garut, ganyong, tiwul, growol dan blenduk.

Demang Martapura menceritakan perjalanan mereka berburu di hutan dan bertemu kakek Suryadharma yang menginginkan putra mereka menjadi murid. Wajah Gayatri berubah pucat, akan tetapi di depan Lohgawe ia tidak berkata apapun.

“Serasa pernah samar-samar aku mendengar nama Suryadharma. Guru pernah menyebut nama itu sebagai satu-satunya tokoh sakti yang tidak mau mencampuri urusan duniawi. Hidup bertani di puncak Merapi. Siapa duga aku bertemu dengannya bahkan beliau berkenan.” Demang Martapura tidak meneruskan ucapannya melihat mata Gayatri merah.

“Seseorang yang dapat memelihara seekor harimau sebesar lembu, tentu kesaktiannya luar biasa. Bersyukur aku tidak menantangnya bertempur,” Demang itu berusaha membelokkan pembicaraan. Ia mengerti istrinya akan menolak keras jika Lohgawe mendalami olah kanuragan di puncak gunung walau hanya lima tahun.

Malamnya, ketika demang Martapura dan istrinya hanya berdua di kamar, Gayatri runtuh waspa. Setelah tidak ada siapapun barulah ia berani menangis. Demang Martapura memeluk erat sang istri. Tidak sari-sarinya Gayatri bersikap cemen.

“Apa yang memberatkan hatimu, Yayi?” tanyanya lembut.

Gayatri merebahkan kepala di dada suaminya, tempat paling aman dan nyaman di dunia ini. Ia semakin keras sesenggukan.

“Aku cemas, Kangmas..”

Demang Martapura membelai rambut Gayatri.

“Yayi mengkhawatirkan Lohgawe?”

Gayatri mengangguk.