Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 125

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 125Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
27 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

125

Keesokan hari, matahari sedang bermalas-malasan, suami istri bahagia ini dengan paras berseri-seri duduk menghadapi sarapan komplet yang ditata di asango: nasi jagung, umbut, ikan asin, trancam, taburan parut kelapa yang dibumbui gula merah, bawang putih, ketumbar, cabe merah, kencur dan garam.

Mereka makan dengan kemaruk, terkadang diseling dengan candaan, dan tepat menjelang puluk yang terakhir, seorang pengawal menghadap dan mengabarkan sepagi itu ada tamu khusus dari Mataram. Berdebar jantung demang Martapura. Ia menyuruh prajurit tadi mempersilakan duta itu menanti di pendapa.

Demang Martapura bersitatap dengan istrinya. Perasaan mereka sama, ada “sesuatu” hal yang berkaitan dengan nubuat kakek Suryadharma. Tanpa mengucap sepatah kata, Gayatri ke kamar menyiapkan pakaian untuk suaminya, karena menerima tamu dari kota raja harus wastra spesial yakni pakaian kebesaran seorang demang. Memang untuk urusan busana dan bujana sang demang hanya mau dilayani oleh istrinya. Begitu sebaliknya, Gayatri melarang keras suaminya diladeni orang lain, dayang pribadi sekalipun bahkan.

Selesai mematut diri, demang Martapura keluar menemui utusan, dan degup jantung demang itu berdebar-debar kencang mendapat kenyataan bahwa utusan Panembahan Senopati itu adalah Tumenggung Suryabranta, orang kepercayaan gusti prabu. Tergapah-gopoh sang demang menyambut tamunya dengan salam-menyalam, saling mendoa keselamatan, dan basa-basi umum barulah Tumenggung Suryabranta menyampaikan maksud kedatangannya.

“Ki Demang Martapura tentunya paham, bahwa, pemindahan tugas bagi pejabat adalah hal biasa. Jika gusti prabu mengadakan pengalihan dharma tidak lain karena menghargai kinerja seseorang selain juga untuk penyegaran suasana. Tidak ada yang aneh dengan itu,” Tumenggung Suryabranta mencoba bicara memutar namun demang Martapura langsung menggrahita.

“Paman tumenggung, kalau saya boleh tahu, siapa yang akan menggantikan aku menjadi demang di sini?”

Wajah tumenggung Suryabranta sedikit memerah, namun kemudian tersenyum.

“Engkau patut berbesar hati sebab penggantimu adalah saudara seperguruanmu sendiri.”

“Adi lurah Kertapati?” tanya Demang Martapura dengan nada tinggi. Tapi ia buru-buru menyadari sikapnya agak kurang trapsila, maka disusul dengan ucapannya yang dibuat sewajar mungkin. “Saya turut bungah, paman tumenggung. Saya mongkog Adi Kertapati naik pangkat, ia sudah lama menjadi lurah. Benar kata paman, kademangan Tembayat menjadi segar dengan adi Kertapati sebagai pengampu baru.”

Tumenggung Suryabranta mengangguk lega. Semula ia berwalang hati. Ia khawatir kalau demang Martapura tidak berkenan dimutasi (tour of duty-pen) lalu patah arang? Panembahan Senopati wanti-wanti agar hati-hati menyampaikan amanat. Demang Martapura ternyata berbesar hati menerima keputusan itu.

“Masih ada satu hal lagi yang harus aku sampaikan.”

Demang Martapura mengangguk hormat.

“Sendhika paman. Silakan.”

“Gusti prabu selama ini mengamati dirimu. Beliau kagum. Selain mumpuni kanuragan, ternyata engkau seorang seniman komplet: pintar menari, nembang, uro-uro, menabuh gamelan, dan memahami wayang. Gusti prabu eman jika bakat seni yang jangkep itu tidak beroleh saluran yang semestinya.”

“Tidak paman. Semua tadi hanya semata-mata kelangenan.”