Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 126

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 126Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
28 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

126

Demang Martapura mulai menebak-nebak arah pembicaraan ini. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh tumenggung Suryabranta.

“Jangan engkau merendahkan diri Ki Martapura.” Tumenggung Suryabranta sudah tidak lagi menyebut ki demang.

“Gusti prabu memberi engkau tugas di istana mengepalai abdi dalem karawitan.”

Bagai disambar petir Ki Martapura mendengar ucapan tumenggung Suryabranta. Tidak salah rungonkah?! Ia, bekas perwira Mataram, pernah sebagai lurah yang disegani, juga demang yang dihormati, sekarang menjadi “perwira” gamelan?! Takhta, pangkat, derajat, semat, daulat, padmasana, posisi di depan kawula --- semua ini disikapi Ki Martapura benar-benar amanah. Tak masalah ia lengser keprabon, tidak lagi menjadi demang, tidak patheken. Namun ia dialihtugas menjadi pejabat karawitan, meski seni memang sudah mendarah daging, ia tetap merasa sedikit dilecehkan.

“Ampun paman tumenggung. Mohon sampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya kepada gusti prabu Panembahan Senopati. Bukan saya menolak apalagi mbalela tapi kebetulan saya memang sedang merencanakan untuk lengser sebagai demang dikarenakan harus ngrukti ibu yang sakit-sakitan. Jadi kedatangan paman tumenggung tepat dengan rencana saya. Haturkan beribu-ribu ampun kepada gusti prabu yang bijaksana.”

Tumenggung Suryabranta mengangguk-angguk dengan kening berkerut.

“Jika itu kehendakmu Ki Martapura, baiklah nanti aku haturkan kepada gusti prabu.”

Setelah (kembali) berbasa-basi tumenggung Suryabranta pamit diri.

“Kangmas, ramalan eyang Suryadharma ternyata..” Gayatri tidak meneruskan ucapannya. Ia sudah diberitahu oleh suaminya, bahwa, kedatangan tumenggung Suryabranta ke Tembayat sepagi itu untuk mengabarkan pencopotan jabatannya sebagai demang, dan penggantinya adalah lurah Kertapati. Dengan demikian mereka sekeluarga akan pergi dari Tembayat. Persis dengan nujuman kakek sakti itu.

Ki Martapura diam termenung.

“Tapi, supaya tidak terjadi karma, apa kita harus menyerahkan Lohgawe menjadi murid eyang Suryadharma? Selama lima tahun? Aku, aku, ahh…” Gayatri menangis. Ia, seperti juga Ki Martapura, tidak peduli dengan jabatan atau takhta atau pangkat. Semua itu titipan dari rakyat. Jika masih diperlukan ya dijalani dan bekerja dengan hati. Tidak memiliki daulat, tidak masalah, tidak menjadikan kesrakat. Namun jika ramalan itu numusi, dan mereka harus berpisah dengan putranya selama lima tahun?!

“Nujum, tilikan, wahyu, ramalan, kadang secara kebetulan pas. Bukan berarti kita pasrah dengan omongan eyang Suryadharma. Beliau seorang sakti itu benar. Ramalan tetaplah ramalan. Lohgawe tidak akan berpisah dengan kita, Yayi.” Ki Martapura membesarkan hati, atau tepatnya menghibur sang istri. Dan benar. Wajah Gayatri yang tadinya redup kembali sumringah.

“Kita ke mana, Kangmas?”

“Jabatan demang atau bahkan patih sekalipun bagiku, bagi kita, bukan apa-apa. Jadi tidak masalah aku dicopot menjadi demang. Tadi aku menolak diangkat kepala urusan karawitan. Kita balik ke desa kelahiranku, Tangkilan. Sementara aku istirahat sembari berpikir apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Bagaimana Yayi?”

“Aku menurut apa keinginanmu kangmas. Apa yang baik bagimu, baik juga bagiku.”

Ki Martapura memeluk erat istrinya.