Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 127

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 127Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
29 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

127

“Yayi, engkau satu-satunya wanita yang aku cintai di samping iyungku. Tidak ada rasa nyaman selain berdekatan denganmu. Gayatri, engkau ratuku.”

“Ahhh, kakang…..”

(Setelah lengser keprabon, Ki Martapura sesuai ikrarnya memilih hiatus dari hiruk-pikuk politik dan kekuasaan. Beberapa tahun kemudian, nama Martapura hilang dari peredaran, sebagai gantinya muncul nama Ki Panjangmas sebagai dalang kondang, suntuk pentas wayang dari desa ke desa bersama istrinya sebagai pesinden dengan nama samaran Nyi Padmarani. Tidak ada lagi nama Martapura dan Gayatri yang sudah mereka makamkan dalam-dalam)

*******

MALAM itu kademangan Tembayat bersolek. Demang Kertapati berkenan menanggap wayang bertepatan acara merti desa (bersih dusun) yang selalu diselenggarakan sebagai simbol rasa syukur rakyat kepada hyang widi atas limpahan barokah-Nya. Karunia dapat berwujud apa saja: rezeki, keselamatan, dan ketenteraman hidup. Bahkan bagi orang Jawa, di waktu tertimpa musibah pun tetap layak mensyukuri. Tetap ada hikmah dan pelajaran di balik sebuah mala. Rasa syukur pun menjadi pelipur untuk ketenangan jiwa. Dan hari itu rumah kademangan berdandan.

Sawah subur tanaman bernas petani makmur. Para kawula berwastra rapi, kendati tidak mewah. Beberapa rumah penduduk terbuat dari kayu jati pilihan yang sengaja didatangkan dari Blora. Panenan berhasil baik, tidak diganggu hama wereng. Semua barokah harus disambut rasa syukur. Demang Kertapati berinisiatif menanggap wayang ruwatan dengan dalang kawentar di seantero Mataram, Ki Panjangmas. Diiringi sinden flamboyan, Nyi Padmarani.

Gedung kademangan terhias bleketepe dengan tuwuhan (buah-buahan) dan pisang raja dua tundun. Gamelan perunggu slendro pelog diatur rapi di atas panggung. Geber putih panjang enam meter terpampang kokoh di atas gedebog pisang yang ditata memanjang.

Di belakang kelir, sebuah meja panjang beralaskan kain beludru merah, dipenuhi macam sesaji seperti: Tumpeng beras putih;- Tumpeng sega gurih; Tumpeng Kuning (campur kunir) ;- Tumpeng beras merah;- Tumpeng ketan hitam; Jajanan pasar;- Ingkung ayam opor;- Pengaron berisi tirta pitung sumber;- Bantal guling;- Paesan;- Cangkul;- Sabit;- Bendho;- Cethok;- Alat perbengkelan. Cambuk;- Caping;- Irus;- Enthong;- Siwur; Saringan kelapa;- Tikar mendhong;- Mori putih;- Juga hewan piaraan seperti ayam, itik, burung dara, belut, lele, angsa dan lainnya.

Pentas malam itu bukan sekadar pertunjukan wayang kulit. Ide demang Kertapati semula ditolak oleh Ki Panjangmas, namun setelah melewati perdebatan alot akhirnya disetujui diadakan ruwatan dengan lakon Murwakala.

“Menurutku, wayang bukan sekadar tontonan tapi juga tuntunan. Namun lebih baik lagi, tuntunan sekaligus migunani terhadap liyan. Para kawula Tembayat banyak yang ingin diruwat atas kesadaran sendiri. Mereka orang-orang yang nandang sukerta. Kakang Marta, eh maaf maaf, Ki Panjangmas sangat mendalami tidak hanya pewayangan melainkan ilmu leluhur. Dengan kita mengadakan ruwatan, Ki Panjangmas bisa mengabdikan diri sebagai dalang yang tetulung bukan semata-mata menghibur. Saya sendiri selaku demang juga ingin rakyatku tenteram.” Begitu rayu serta bujukan demang Kertapati kepada kakak seperguruannya ini.