Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 128

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 128Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
30 Oktober 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

128

“Belum pentas saja aku sudah membayangkan lakon Murwakala akan disambut meriah. Ki Panjangmas tersohor sebagai dalang jangkep yang sangat menjiwai dalam sulukan; janturan; sabetan; antawacana; geculan dan falsafah kuno. Sebagai adik seperguruan, aku bangga padamu ki dalang,” puji demang Kertapati yang ditanggapi dengan gembira oleh Ki Panjangmas. Kesan buruk terhadap adik sakbanyon ini hilang sesudah melihat rakyat Tembayat semakin sejahtera, dan sikap sang demang yang rendah hati.

Di belakang panggung, Ki Panjangmas ditemani pesinden Nyi Padmarani dan Lohgawe. Mereka dijamu pelbagai makanan, dan demang Kertapati yang mengetahui keremenan dalang kondang itu sengaja menyediakan nasi urap, trancam, ikan asin, rempeyek teri dan opor ayam. Tidak lupa disajikan wedang teh pekoe, teh yang sebenar-benarnya teh, yang diambil dari pucuk teratas (tiga lembar daun) pada waktu subuh. Tembayat memang sohor dengan teh mutu terbaik.

“Silakan makan, jangan sungkan-sungkan Ki Panjangmas, juga diajeng, ehh maaf, Nyai Padmarani, kami sengaja membuat hidangan khusus untuk kalian,” ujar ramah sang demang.

“Terima kasih,” jawab singkat Nyi Padmarani yang entah mengapa merasa risih dengan keramahan demang yang dulu berkali-kali menyatakan cinta padanya itu. Tadi pun, meski hanya sekilas, namun pandang mata berkilat demang Kertapati membuatnya mulas sekaligus was-was.

Ki Panjangmas duduk anteng namun beberapa kali dahinya berkerut. Sekian tahun silam, ia menjadi pemuka di Tembayat. Kademangan itu dan para penduduknya tidak banyak berubah. Tembayat memang tidak berubah. Dirinyalah yang berubah, setidaknya dalam pekerjaan. Kini ia “hanya” dalang meski namanya tenar di delapan penjuru angin. Sekali lagi, takhta bagi dirinya, hanya titipan rakyat. Dulu demang sekarang dalang, kenapa bimbang – begitu ia mupus diri.

Sebelum acara dimulai, panitia ruwatan diwakili oleh Ki Jagabaya membacakan kepada para penonton yang berjubel di depan panggung, siapa saja yang akan diruwat silakan duduk di balik layar. Ada sekitar tujuh puluh orang yang tergolong nandang sukerta, terdiri pria dewasa, perempuan paruh baya, juga remaja dan anak-anak.

“Masih ada keluangan bagi yang ingin diruwat. Benar-benar kesempatan langka. Saya jelaskan siapa yang termasuk manusia sukerta.” Ki Jagabaya membuka lembaran rontal berisi catatan “barisan sukerta” antara lain: Ontang-Anting; Unting-Unting; Kedana-Kedini; Uger-Uger Lawang; Kembang Sepasang; Dampit; Gondang Kasih; Tawang Gantungan; Wungkus; Julung Wangi; Sakrenda; Tiba Sampir; Jempina; Wungkul; Sungsang; Tiba Ungker; dan banyak lagi.

Sebelum acara inti, ada kelompok kesenian lokal turut partisipasi dengan menampilkan rakat yaitu tari-tarian dan lawakan di mana pemainnya semua mengenakan topeng. Para hadirin, terutama anak-anak dan remaja, tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan geculan segar; dagelan yang bukan slapstick, sarkastik, atau skolastik yang “mengajarkan” tertawa melihat penderitaan orang lain: senang melihat orang susah; susah melihat orang senang.