Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 129

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 129Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
01 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

129

Sanggar Madu Laras terdiri pemain profesional, yang tidak asal menari, namun ada gerakan-gerakan pakem. Kendati lokalan, sanggar tari tersebut menjungkirbalikkan pendapat bahwa humor dapat mendulang tawa lewat empat unsur yaitu kejutan; tidak masuk akal; sesuatu yang mengakibatkan rasa malu; dan membesar-besarkan (lebay) suatu masalah. Nyatanya mereka sukses menghibur penonton.

Empat puluh menit berlalu. Para penari Sanggar Madu Laras turun pentas, dengan tepuk tangan gemuruh. Dilanjutkan dengan tari gambyong untuk menyambut tamu-tamu terhormat. Sanggar Panjer Lintang, meski “kelas” kademangan, tapi para penarinya tidak amatiran. Mereka luwes membawakan Tari Gambyong Pareanom (dengan berbagai variasi) dan Tari Gambyong Pangkur --- keduanya tetap berbasis pada gerakan tayub (tledhek-pen). Para penari ini pun turun panggung dengan sorakan penonton yang gegap gempita.

Kini tibalah acara pokok: Ruwatan.

Ki Panjangmas duduk bersila di depan pakeliran. Semua yang hadir diam. Mereka suntuk menyimak lakon Murwakala dengan tertib. Adegan dimulai mantra pembuka:

Hong ilaheng, tata winanci awignam mastu samas sidhdhem.

Dengan suara bariton, Ki Panjangmas membacakan tawarikh sang hyang batara kala:

“Sinigeg sakathahing para jawata watak nawasanga, pada retane sang hyang pramesthi guru kang tiba ing sela sana sewu, bentar kepara sewu, mila dalah samangka watu, dadi sajagad.

Ana sawijine yogane sang hyang pramesthi guru kang tiba telenging samodra, medal akimplik-kimplik, ing aran sang hyang kamasalah, bisa ngadeg ing aranan sang hyang candhusekti. Ing kana kaidenan dening sang hyang pramesthi guru, sakathahe jawata watak nawasanga, kinen nggunturana marang kamasalah, sakathahe guntur wedang, guntur watu, apa dene guntur geni, pada nurunake, guntur tanana, kang tumama, nora sangsaya suda, malah sangsaya gedhe kalawun-lawun. Ing kana kocap bebandhem, malar dadi pepak dandananing sarira, nulya minggah marang gagana arsa panggih lawan wong tuwanira, iya sang hyang pramesthi guru”.

Diteruskan Pakem Sontheng:

“Hong ilaheng pra yoganira sang hyang kamasalah tengerannya, kang daging sang kemala, kadi gerah suwarane, abra lir mestika murub, amarab”.

Dituturkan pada suatu senja (tunggang gunung) yang lembayung, Manikmaya atau Syiwa atau Batara Guru dan Dewi Uma (Parvati) melanglang buana di antariksa menunggang Lembu Andini. Pemandangan waktu itu sungguh menakjubkan tak terpermanai. Batara Guru terkesima melihat kejelitaan istrinya. Di bawah siraman semburat jingga cahaya surya, Dewi Uma begitu manohara. Tidak pelak lagi, libido Sang Guru memuncak ke ubun-ubun dan mengajak bercinta sang istri. Dewi Uma menolak halus karena menyadari ini bukan saat tepat untuk cumbana. Apalagi di awang-awang terbuka seperti itu. Di sini faset menarik tersingkap: relasi kedaulatan. Di nyaris semua kisah percintaan perempuan senantiasa ditempatkan dalam posisi objek dengan “O” kapital. Perempuan, dengan demikian, hidup dalam kendali yang ketat atas hasrat. Ia bukan pemegang remote bahkan atas urat dagingnya sendiri. Hanya “perempuan bukan manusia” yang memiliki obsesi, daulat dan kapasitas untuk mengenyam birahi. Dan itulah Dewi Uma, yang menolak—setidaknya dalam hasrat, dalam kehendak—bercinta yang tidak pada tempatnya.