Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 130

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 130Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
02 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

130

Dan itulah Dewi Uma, yang menolak bercinta yang tidak pada tempatnya. Namun Batara Guru terlanjur berada dalam kulminasi berahi. Dengan sedikit brutal ia menjambak rambut Dewi Uma, dan terjadilah hubungan cinta terpaksa di tubir Lembu Andini. Menjelang Sang Guru mencapai puncak, Dewi Uma mendorongnya dan melepaskan diri dari pelukan suaminya yang berwajah soga. Akibatnya, kama Sang Guru mencurah ke samudra, dan bermetamorfosis menjadi raksasa sebesar gunung yang dinamakan Kala. Jadi, Kala merupakan produk yang keliru, dan atas kekeliruan itu, meskipun anak dewa-dewi, ia tumbuh kembang menjadi raksasa jahat, yang gemar memangsa daging manusia. Pada momen tumplaknya sperma ini—jika ditarik ke dataran moral—merupakan pameling bahwa tidak sepantasnya orang melakukan hubungan suami-istri di sembarang lokasi supaya tidak lahir generasi luka.

Batara Guru yang antrahnya grusa-grusu, memberi palilah Kala untuk menyantap orang-orang sukerta. Namun, setelah berdiskusi lama dengan Batara Narada, sang patih, Batara Guru menyadari bahwa santapan untuk Kala telah memakan banyak korban. Ia kemudian menganulir restunya dengan cara menulis lafaz di dada Kala. Ketentuannya, siapa saja yang dapat membaca mantra tersebut oleh Kala harus dianggap sebagai ayahnya kendati orang itu masih kanak-kanak.

Ternyata sedikit yang mampu melisankan lafaz di dada Kala. Korban pun berjatuhan. Batara Guru akhirnya memutuskan turun ke arcapada, dan menyamar sebagai dalang dengan nama Ki Dalang Kandhabuwana. Kala pun takluk pada Ki Dalang, dan dia diperintah tinggal di rimba Krendhawahana. Kala setuju dan tunduk, tidak akan mengganggu anak-anak sukerta, yang telah diadopsi oleh Ki Dalang Kandhabuwana. Mereka itulah para sukerta yang telah menjalani ruwatan.

Kala memohon diberkati dengan Santi Puja Mantra, Ki Dalang pun mengabulkan lalu memandikannya dengan air dan bunga-bunga. Sebelum pergi ke hutan, Kala minta bekal sesaji berupa alat-alat pertanian dan hasil bumi, alat dapur, ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, bebek dan sebangsanya. Masih ditambah kain panjang, beberapa jenis makanan, tikar-bantal dan selimut, yang akan dipakai selama perjalanannya menuju hutan. Sepeninggal Kala, Ki Dalang memerintahkan kepada Batara Bayu untuk mengusir seluruh pasukan Kala dengan menggunakan cambuk sada lenang yang diikat benang perak. Menutup prosesi Ruwatan Murwakala, Ki Dalang memandikan para sukerta dengan air tujuh sumber yang dicampur beberapa macam bunga mawar merah putih, kantil, kenanga dan melati.

Para kawula berjubel-jubel, baik di muka geber maupun belakang kelir. Rakyat Tembayat memandang penting upacara ruwatan sebagai pembersih orang sukerta, termasuk di dalamnya adalah kodrat serta semangat. Mereka menyikapi ruwatan bukan lagi masalah teologi, melainkan identitas sosial. Mereka juga tidak peduli hadirnya Syiwa, Brahma dan Wisnu—juga para dewa seperti Batara Guru, Narada dan Batari Uma—sebab mereka paham itu sekadar tokoh cerita di pewayangan, dan berbeda sifat dengan yang ada pada Hindu. Agama diperuntukkan bagi mereka yang masih terlelap, sedangkan spiritualitas buat mereka yang sudah bangun.