Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 132

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 132Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
04 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

132

Di kamar mewah, Nyi Padmarani siuman sesudah diurut pundak dan lehernya.

“Lohgawe, anakku Lohgawe, duh gusti.” Sinden itu menjerit, kemudian pingsan lagi.

“Ibu-ibu sebaiknya menunggu di luar. Bilik ini menjadi sumpek. Kasihan Nyi Padmarani, beliau butuh udara segar. Monggo ibu-ibu, dan juga kalian jangan kumpul semua di sini,” kata Darsi kepada dayang-dayang dengan suara lembut.

Darsi?! Darsi?!

Di sini Cakra Manggilingan bekerja. Wolak-walik zaman. Dulu di bawah, sekarang bisa di atas. Begitu sebaliknya. Darsi, yang cintanya bertepuk sebelah kaki, dan tidak terlaksana impi atau halusinasi menjadi selir demang Dinar, sekarang kasembadhan. Berkat campur tangan sang paman, Triman, ia kini selir kesayangannya demang Kertapati. Sekaligus orang kepercayaannya. Dan ketika terjadi siklus sejarah, maka betapa pun baiknya manusia, petaka tidak terelakkan.

“Nyi Padmarani, bagaimana keadaanmu? Saya ambilkan air putih hangat.” Darsi cekatan menuang minuman ke dalam gelas. Lalu diangsurkan kepada istri Ki Panjangmas itu.

Nyi Padmarani menggeleng dengan muka sembab. Ia tidak ingin minum.

“Lohgawe. Di mana dia?” desah sinden cantik itu.

“Putramukah?”

Nyi Padmarani mengangguk.

“Lohgawe, anakku ….”

“Tenanglah Nyi. Jangan cemas. Suamiku pasti dapat menemukan putramu. Aku jamin.”

“Siapa suamimu itu? Prajurit kademangan?”

“Bukan Nyi. Beliau demang Kertapati.” Darsi menjawab bangga.

Yang dikatakan Darsi tidak sepenuhnya keliru. Demang Kertapati ditemani paman guru Resi Kamayan, yang menjabat penasihat spiritual di Kademangan Tembayat, memang memburu Lohgawe, putra semata wayang dari kakak seperguruannya itu. Tentu dengan maksud khusus, di mana hanya demang itu, paman guru dan Tuhan yang tahu. Lohgawe seperti raib ditelan bumi.

“Kita mencari ke mana lagi, paman?” Demang Kertapati lesehan di atas sebuah akar yang menyembul di pinggir hutan. Napasnya sedikit terengah karena sekitar empat jam berlari di jalan makadam. Stamina demang jongos nafsu itu tidak seprima dulu.

“Entahlah.”

“Harimau putih itu?”

Resi Kamayan berdiri di bawah pohon ketepeng sambil merenung.

“Tampaknya macan itu peliharaan seorang linuwih.”

“Paman mengenalnya?”

“Samar-samar pernah aku dengar seorang yang konon kesaktiannya menyamai dewa Tapi aku ragu apakah dia masih hidup.”

“Siapa?”

“Kaki Suryadharma. Menurut kabar-kabur, kadigdayannya bisa disejajarkan dengan Patih Narotama, Pasung Grigis dan Raja Airlangga.”

“Celaka jika bocah itu menjadi murid manusia sakti.”

Resi Kamayan tertawa pendek.

“Jika engkau berhasil mengawini waranggana istri Panjangmas yang membuatmu tergila-gila siang malam itu berarti bocah itu anakmu juga. Apa yang engkau cemaskan?”

“Kalau Gayatri menolak?”

“Itu tugasmu bersama Darsi membujuknya. Bukan urusanku.”

“Paman benar-benar hebat. Bidikan panahmu tepat dan kuat. Walau Martapura termasuk digdaya, namun sama sekali tidak berdaya menghadapi paman, seperti juga Dinar dan Latri.”

Resi Kamayan mendengus dengan wajah dingin. Ia imun segala puja-puji melompong.

“Penggayuhku belum selesai. Bukankah paman berkenan menjadi patih Mataram?”

“Kertapati! Kalau mau menjadi prabu, tak cukup bertindak. Kau harus menjadi prabu itu sendiri.”

“Sendhika paman! Jadi, bagaimana rencana selanjutnya, paman?”

“Rencana terbaik adalah tidak memiliki rencana. Situasi kadang tidak terkendali.”

“Sendhika paman!”