Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 133

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 133Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
05 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

133

Demang Kertapati tersenyum puas kembali ke kademangan bersama Resi Kamayan. Ia akan membuat Tembayat sebagai kademangan autarki (bukan bagian Mataram). Persetan dengan Panembahan Senopati.

*******

DARSI berjalan mondar-mandir seperti setrika di kamar. Apa yang ditugaskan oleh Demang Kertapati ternyata tidak dapat diterjemahkan dengan baik di lapangan. Gayatri, atau pesinden Nyi Padmarani bukan wanita biasa sebagaimana perkiraannya. Ia tidak menjadi lembek setelah suaminya, dalang Ki Panjangmas, mati terpanah. Ia bisa menjaga harkat sebagai janda.

“Jadi, engkau selir Kertapati?” tanya Gayatri pelan. Matanya meneliti wanita di depannya

Darsi mengangguk. Ia merasa kalah perbawa di hadapan waranggana cantik ini.

“Nomor berapa?”

“Pertama, dan satu-satunya, Nyi.”

Hmmm. Satu-satunya. Engkau percaya janjinya?”

Darsi mengiyakan.

“Kakang Kertapati tidak mengambil ampeyan lagi.”

Gayatri memandang kasihan wanita ayu di depannya ini.

“Engkau membujukku. Taruh kata aku mau, berarti engkau bukan selir satu-satunya.”

Darsi menggeleng keras.

“Tidak, Nyi. Aku tetap selir. Sedangkan Nyi Padmarani menjadi garwa padmi; diangkat sebagai ratu oleh kangmas Kertapati.” Darsi memandang wanita di depannya penuh harap.

Namun apa yang dikatakan Gayatri merupakan jawaban yang mengejutkan.

“Sejarah adalah panitera yang selalu mencatat kebaikan dan keburukan manusia dengan jujur. Benar aku janda. Dan tidak tahu apa sebabnya menjadi seperti ini. Tapi memang sejak dulu aku menolak pinangan Kertapati, sejak kami sama muda.”

“Beliau lelaki baik dan bertanggung jawab, Nyi.” Darsi membela suaminya.

Gayatri mendengkus.

“Kertapati itu seperti sapi. Ia tumbuh kembang dalam ukuran, bukan dalam kearifan.”

“Kakang Kertapati suami bijaksana. Ribuan dlupak bisa dinyalakan dari satu misbah dan nyalanya tidak akan berkurang. Begitu pula katresnan tetap utuh kendati dibagi, terlebih hanya kita yang berbagi, Nyi.” Darsi terus berusaha mengambil hati Gayatri sesuai pesan suaminya.

“Hmmm, Darsi, namamu Darsi ya. Engkau agaknya seorang perempuan yang memiliki gayuhan setinggi langit, itu boleh saja asalkan dengan cara yang benar dan kerja keras. Suamimu menurutku juga bercita-cita besar. Namun, tanpa kerja keras tak akan ada tanaman yang tumbuh subur kecuali suket teki. Aku mengenal Kertapati sejak bahkan engkau masih kecil.”

Darsi mengangguk. Ia memang berentang cukup jauh usianya dengan Nyi Padmarani.

“Nyi, kita jangan bermukim di masa silam; juga jangan bermimpi tentang masa depan.”

“Maksudmu?”

“Pikirkan nasib kita sekarang. Demang Kertapati memiliki segalanya: praja, kedudukan, harta, kekuasaan dan juga digdaya. Aku ikhlas sebagai garwa ampil, dan nyai ratunya!”

Gayatri tertawa pelan tetapi dengan nada jauh dari sukacita.

“Darsi, sungguh aku kasihan padamu. Urusan manusia dalam menjalani kehidupan bukan untuk melampaui orang lain, namun untuk mengungguli diri sendiri dan melampaui hari kemarin dengan hari ini. Sikap kita berbeda tapi aku menghargai telatahmu. Aku bertahan hidup, karena masih memiliki tanggung jawab mengungkap misteri pembunuhan suamiku beserta para nayaga. Kalau bukan karena itu, sudah kemarin-kemarin aku bunuh diri.”