Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 134

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 134Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
06 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

134

“Nyiiii….” Darsi memandang dengan wajah kesi. “Kakang demang telah berusaha keras mengungkap siapa pengacau saat ruwatan itu. Memang belum ada titik terang. Tapi percayalah, Kakang Kertapati pasti menemukan pembunuh Ki Panjangmas. Nyai bisa membalas kesumat.”

Gayatri menggeleng dengan muram. Matanya menerawang di gulitanya malam.

“Kebencian ibarat kita menenggak racun dan berharap musuh yang terbunuh. Aku tidak ada rasa dendam kepada siapapun, tapi bagaimanapun keadilan harus ditegakkan.”

“Baiklah, Nyi.” Darsi dengan lesu membalikkan tubuh. Ia malam itu gagal membujuknya meski sudah berusaha dengan pelbagai cara, terutama iming-iming kamukten. Pembicaraan tadi bakal ia tuturkan kembali kepada demang Kertapati, terserah suaminya akan mengambil langkah apa. Harapan bekas pelayan itu untuk mendapatkan emas intan berlian sebagai halnya dijanjikan demang Kertapati, kandas bersama impiannya menjadi ampeyan tunggal.

Dan bukan Kertapati jika mudah menyerah. Ia geram, dan jengkel menganggap selirnya tidak becus membujuk Gayatri. “Engkau dapat buah maja yang pahit sekali? Buang saja. Engkau menemui jalan setapak penuh onak? Cari jalan lain. Jangan sampai orang lain menertawakanmu” ujar Resi Kamayan, paman guru sekaligus motivatornya. “Untuk berhasil, tidak cukup bertindak. Benar manusia tidak memiliki kuasa untuk mendapatkan apapun yang dimaui, namun memiliki daulat untuk bermartabat.”

Paman resi benar, ujar Demang Kertapati dalam hati. Ia harus mendapatkan Gayatri, toh sinden itu janda, sedangkan ia berkuasa, apa lagi? Maka pada malam yang sedikit gerah di mana angin terlanjur mati, demang Kertapati menemui Gayatri di biliknya. Sinden itu duduk di tubir ranjang dengan muka keruh, sementara sang demang berdiri karena tak dipersilakan melungguh.

“Darsi menemuimu kemarin malam?” Kertapati mengawali pembicaraan.

Gayatri sedikit menggerakkan kepala. Tidak sepatah pun kata keluar dari mulutnya.

“Bertahun-tahun aku memeram rindu sesudah engkau kecewakan. Kadang aku bertanya, setia atau bodohkah aku ini.” Kertapati menarik napas panjang.

“Dungu!”

“Ya!” Kertapati tertawa getir. “Goblok demi seseorang memang patut ditertawakan.”

Gayatri bergeming. Lalu angin permisi lewat mempermainkan daun mundu di halaman.

“Aku melihat labirin kosong dalam dirimu, sesuatu yang tidak tampak tapi terasakan.”

Gayatri bergeming. Bulan sepotong di angkasa bergeser pelan.

“Kau mengenalku, Kertapati, namun tidak sepenuhnya memahamiku.”

“Paham! Engkau janda. Aku memiliki kuasa. Kenapa menolakku? Nalarlah diajeng.”

“Engkau tidak akan paham. Engkau menggunakan bahasa nalar, bukan hati.”

Demang Kertapati mengangguk-angguk. Sedikit tersenyum, pahit.

“Cinta dan keajaiban memiliki persamaan besar. Keajaiban yang membuatmu bertahan. Keajaiban pula, mungkin, yang membuatku dapat berubah perangai. Kebetulan aku berkuasa.”

“Jangan mengancam. Aku tidak takut mati. Berkali-kali engkau menyebut soal kekuasaan Sekali engkau menggunakan kekerasan cundrik warangan ini aku benamkan ke dadaku.”

 Gayatri mencabut keris kecil dari balik kemben. Wajahnya tak merunduk. Ia menengadah justru.

“Jangan gila, diajeng…”

“Siapa menginginkan tubuhku hanya mendapatkan mayatku.”

“Diajeng Gayatri. Engkau menuduh aku akan menggunakan kekerasan?”

“Aku melihat nafsu dari bahasa wajahmu yang cabul.”