Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 136

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 136Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
08 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

136

Jasad “ratu” atas perintah demang Kertapati dibawa ke Gunung Kelir. Masih atas titah sang demang, jenazah tidak boleh dimakamkan. Pagi siang malam Kertapati menunggui dengan alasan ingin melakukan “wawancara” secara gaib untuk mengetahui siapa pembunuh suaminya yang hingga detik itu belum ketemu, sekaligus menanyakan mengapa Gayatri bunuh diri.

Tidak sedikit warga bertanya-tanya dan curiga perilaku demangnya yang misterius, namun lagi-lagi tak ada seorang pun berani menahyinkan langsung. Seperti galibnya manusia lebih memilih berada di zona nyaman. Kesadaran politik rakyat untuk terlibat urusan publik itu waktu juga belum ada.

Tepat pada hari ke-40 demang Kertapati menunggui jasad jumud Gayatri, ketika tidur pulas di samping kanan jenazah (yang sudah dibalsam sehingga tidak membusuk-pen) Kertapati bermimpi Gayatri telah berkumpul dengan Ki Panjangmas di nirwana. Tersadar, demang itu lalu balik ke rumahnya dan memerintahkan Gayatri dikuburkan dengan upacara meriah. Ia bertukar ulung dengan kecundang.

Tembayat bersimbah darah karena orang macam Kertapati tidak hendak mengakui bahwa mereka yang paling lemah dan paling dianiaya yang justru mengingatkan apa yang menakjubkan dalam manusia: sebuah pertalian yang tak tampak. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

Ketika cinta memanggilmu dekatilah meski jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu dekaplah ia meskipun pedang di sela-sela kepak sayapnya melukaimu. Dan jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan mendatang (Khalil Gibran).

Demang Kertapati telah kalah, paling tidak dalam sisi moral. Setiap kemenangan selalu mengandung kekalahan. Tidak ada yang absolut di mayapada ini. Peristiwa nista di bilik Gayatri membuktikan itu: kekuasaan tidak akan pernah cukup, dan ada yang tereduksi dalam setiap takhta. Gayatri ternyata bukan bagian dari materi jarahan. Ia merdeka bahkan ketika diperkosa. Kertapati hanya berhasil menjarah tubuhnya bukan cintanya. Dan cinta tidak pernah berpikir tentang kesulitan, tentang kemustahilan, termasuk kematian. Gayatri menang dalam kekalahan.

DÉJÀ VU

RESPATI Cemengan. Di angkasa rembulan sedang bersorai merayakan benderangnya. Malam itu suasana Tembayat berbeda dengan malam sebelumnya. Sejak senja, rata-rata kawula di kademangan cukup gemah ripah itu seakan ngeri membuka pintu. Mereka khusyuk membakar hio, dan melantun mantra di sanggar pamujan. Asap wangi menguar dari atap rumah, berkumpul di angkasa, bercanda dengan restan sinar rembulan yang temaram, menebarkan aroma magis.

Sudah menjadi keyakinan umum, di malam sukra kasih, apalagi kala lepas surup, seluruh dedemit gentayangan di seantero permukaan bumi, untuk mencari korban manusia yang ringkih imannya dan rapuh batinnya. Mereka, parade roh halus ini (konon) muncul dari pohon besar; dari gua-gua angker; berduyun-duyun memasuki dusun dengan suara gemuruh, baur dengan alunan jangkerik, walang kekek, kalong, tarsius, burung hantu, kuskus, kiwi, lemur dan kukang.