Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 137

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 137Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
10 November 2020 03:17 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

137

Suara-suara mistis melewati rumah-rumah yang tertutup rapat, kadang diseling kepak sayap burung nokturnal. Atau jeritan panjang serigala yang ngelangut. Juga cericit galago, lemur, dan bangkong serasah. Orang akan sulit membedakan antara suara burung kulik dengan ratapan kuntilanak kehilangan anak dan sedang mencari penggantinya di antara orok-orok manusia yang baru lahir. Terkadang, jika angin sejenak menghentikan desisnya, suara-suara itu pun lenyap. Di titik inilah (konon) roh jahat menerkam korbannya.

Dan pada saat lengang mencengkam, di ketika purnama ikut menyembunyikan sebagian paras keemasannya di balik awan hitam berbentuk Batara Kala, di saat angin ngaso bertiup dan semua warga Tembayat meringkus berkerudung sarung di atas tempat tidur, ibu-ibu mendekap anaknya, para suami memeluk istrinya, pada saat itulah berkelebat bayangan hitam “terbang” di atas atap rumah demang Kertapati. Dengan gesit bayangan itu meloncat turun ke halaman tanpa sedikit pun mengeluarkan suara. Ia kemudian mengendap-endap menuju kamar paling besar dan tangan kanannya membuka tingkapan. Sepasang mata yang mencorong seperti harimau meneliti keadaan di bilik. Wajahnya kelihatan gegetun ketika melihat yang ada di dalam kamar itu hanya seorang wanita, masih kelihatan cantik pada usia 30 tahunan, sedang menyusui bayi perempuan.

“Orang itu minggat ke mana?” tanyanya membikin kaget ibu muda itu karena tahu-tahu muncul lelaki belia berpakaian hitam di depannya seperti setan.

“Hantu..” tangan kokoh pemuda  itu cepat menutup mulut yang akan menjerit ketakutan.

“Tenanglah. Aku bukan iblis bukan dedemit. Mana Kertapati?”

“Ada perlu apa engkau malam-malam mencari suamiku?” tanya wanita itu sesudah dapat menenangkan diri. Ternyata manusia biasa yang berdiri di hadapannya. Barangkali penjarah.

“Hmmm. Kertapati suamimu?”

“Ya. Aku Darsi, istri demang Tembayat.” Suara wanita itu terdengar bangga, mungkin juga untuk menggertak “maling” tadi agar cepat kabur.

“Mana Kertapati?”

“Engkau siapa? Kalau maling cepat ambil perhiasan di lemari dan segera pergi.” Darsi menunjuk almari besar di pojok kamar.

“Jangan kurang ajar! Aku Lohgawe. Bukan maling.” Anak muda itu gregetan dianggap seorang “pekerja malam”.

“Bukan maling, namun sikapmu tidak beda dengan pencuri. Malam-malam masuk kamar orang, lalu mau apa kalau tidak menjarah?” Darsi menutup kancing bajunya yang tadi terbuka. Ia melihat laki-laki paling banter usia 20 tahun itu tidak sangar malah tampan berkulit halus. Itulah sebabnya ia mulai berani.

“Aku datang untuk membuat perhitungan dengan Kertapati. Aku tidak berniat mencuri. Namun berkali-kali engkau menyebutku maling, ya sudah. Sekarang aku benar-benar menjarah.”          Lohgawe membuka lemari besar dari kayu jati pilihan. Matanya terbelalak melihat begitu banyak perhiasan rajabrana yang nilainya sangat luar biasa. Di dalam almari ada kantong kain hitam ukuran besar. Seluruh perhiasan ia masukkan kantong. Lalu diikat erat di punggungnya. Lohgawe berbalik menghadapi Darsi sambil tersenyum.

“Yang engkau lakukan ini, kalau bukan maling, lalu apa?” tanya Darsi sambil menepuk- nepuk bayinya karena menggeliat dengan mata sedikit terbuka. Bayi itu kembali tertidur.