Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 138

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 138Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
10 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

138

Darsi menepuk-nepuk bayinya karena menggeliat dengan mata sedikit terbuka. Bayi itu kembali tertidur.

“Terserah engkau menyebutnya. Sekarang katakan, mana Kertapati?” Lohgawe mendekat

“Maling…. Ada maling….” Darsi berteriak sekuat-kuatnya. Ia tidak takut lagi atas dua pertimbangan. Pertama, pencuri itu kelihatan amatiran karena tidak memakai kedok. Dan, kedua, suaminya seorang sakti mandraguna dibantu banyak prajurit. Takut apa?!

“Hmm. Teriaklah sekeras-kerasnya. Sayang di sini tidak ada pelantang.” Lohgawe santai karena ia memang menunggu musuh besarnya datang. Tapi ada satu hal yang ia tidak menduga. Hanya dalam hitungan detik, terdengar derap kaki banyak orang, dan tahu-tahu kamar itu sudah dikepung rapat. Ratusan prajurit berdiri dengan tombak di tangan. Tampak pula seorang laki-laki berusia lebih separuh baya.

“Darsi. Apa yang terjadi?” tanya laki-laki berkumis tipis dan bermuka licin itu.

“Kangmas Kertapati, ada maling menyatroni …”

“Serahkan bayimu!” Lohgawe dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata telah mengambil bayi mungil itu dari dekapan Darsi. Ia terpaksa harus melakukan ini sebab posisinya terjepit berada di kamar yang sudah dikurung ketat oleh hampir seluruh prajurit Tembayat.

“Mundingsari.. anakku…” Darsi menjerit histeris. “Mundingsari…”

“Diamlah. Aku tidak akan berbuat kasar. Teriakanmu justru membangunkan anakmu.”

“Ahh, Mundingsari..…” Darsi menangis mengguguk. Matanya nanar melihat Lohgawe mengeluarkan pisau kecil dari balik bajunya.

“Jangan, ahhh, jangan bunuh anakku..” Tangis Darsi menjadi-jadi.

“Sudah aku bilang. Anakmu aman bersamaku,” kata Lohgawe tenang. “Sekarang suruh Kertapati memberi aku jalan. Cepat!”

“Kangmas… anak kita dibawa. Mundingsari …”

Demang Kertapati segera tanggap situasi. Ia tahu, anaknya pasti selamat. Hanya dijadikan jaminan

“Beri jalan,” perintah demang itu kepada prajurit yang berkerumun di muka pintu.

Pisau tajam yang menempel di leher Mundingsari memaksa semua prajurit menahan diri. Bayi itu memiliki harga sama pentingnya dengan menjaga ketenteraman kademangan Tembayat.

“Keparat, aku tidak mungkin memaafkan perbuatanmu,” geram demang Kertapati.

“Kujamin engkau pasti mati di tanganku.” tambahnya dengan wajah merah membara.

“Jangan terlalu percaya diri berlebihan, Kertapati.”

Lohgawe tertawa. Tangan kanannya tidak pernah lepas dari pisau yang terus melekat di leher Mundingsari. Bayi yang tidak tahu menahu persoalan apapun itu terlelap, bahkan bergerak menempatkan diri pada gendongan yang paling nyaman dan hangat.

“Anak muda. Nyalimu benar-benar luar biasa. Aku kagum padamu,” ujar Resi Kamayan.

Lohgawe tertawa berderai, tapi kemudian menghentikan deraiannya karena bayi mungil di pelukannya menggelinjang. Ia meniru yang dilakukan Darsi, menepuk-nepuk pantatnya.

“Engkau siapa Kiai?” Lohgawe memerhatikan lelaki berwajah tirus yang pasti bukan prajurit dilihat dari sikap serta dandanannya. Kelihatan berwibawa dan aura perbawanya terasa.

“Aku Resi Kamayan.”

Lohgawe mengangguk-angguk. Ternyata ini paman guru Kertapati yang sangat sakti.