Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 139

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 139Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
11 November 2020 23:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

139

“Resi Kamayan. Penasihat spiritual di kademangan Tembayat. Sengaja aku menjatuhkan pilihan memasuki rumah demang Kertapati yang dijaga ketat. Semakin kuat penjagaannya, aku semakin bernafsu menjajal masuk. Yang aku lihat di rumah ini sangat jauh dari perkiraanku Resi Kamayan. Semula aku menduga demang Kertapati kaya raya, sebagaimana kawula Tembayat hidup makmur. Ternyata dugaanku keliru. Yang benar, demang Kertapati amat sangat kaya raya dan engkau agaknya turut kecipratan kamukten bapa resi.” Lohgawe tersenyum menyindir.

“Apa yang berada dalam buntalan besar ini emas berlian yang nilainya bahkan cukup untuk mendirikan kerajaan sendiri. Sudah sesuai dengan keinginan Demang Kertapati untuk pisah dari Mataram seperti samar-samar aku dengar.”

Resi Kamayan memandang tajam Lohgawe. Ia mulai menduga-duga siapa pemuda itu.

“Jadi engkau maling rendahan?” tanya demang Kertapati dengan nada menghina.

Lohgawe berjalan memutar dan memerhatikan ratusan gendewa yang mengarah pada tubuhnya. Tidak gampang meloloskan diri dari tempat ini, pikirnya.

“Tolong anak panah diturunkan. Tidaklah bijaksana membuatku ngeri.”

Perintah itu tak mendapat jawaban. Seluruh anak panah masih teracung pada dirinya.

“Di sini, saat ini aku berwenang memberi komando. Turunkan anak panah. Atau bayi imut ini akan mati,” seru Lohgawe. Para prajurit bergeming. Anak muda itu siapa berani main titah semaunya?! Hanya pencuri kelas teri.

“Penuhi permintaannya.” Terdengar sebuah suara. Para prajurit merasa janggal. Perintah bukan keluar dari mulut demang Kertapati atau Resi Kamayan. Melainkan dari bibir Darsi yang pucat.

Serentak para prajurit menurunkan senjata. Istri, tepatnya ampeyan dari demang yang meminta. Seumur-umur baru kali ini Darsi memberi perintah. Padahal selama ini ia tidak pernah ikut campur urusan suaminya. Darsi melangkah mendekat, namun Lohgawe segera mengangkat pisaunya.

“Jangan kemari.” Bentakan Lohgawe membuat Darsi membatalkan langkahnya.

“Maling adalah jenis pekerjaan aib. Nista. Engkau melakukan itu anak muda. Tapi, bayi yang tidak tahu apa-apa engkau ikutkan dalam pekerjaanmu. Ini adalah kelakuan lebih nista lagi. Serahkan Mundingsari padaku,” kata Darsi.

Sejenak suasana hening. Bagi Lohgawe, ucapan Darsi menohok di hati.

“Engkau tadi mengatakan menculik bayi itu nista? Jujur, selama ini aku tidak bisa bertani atau berdagang atau menjadi nelayan. Memang benar, menculik bayi itu nista tapi ada jenis yang lebih nista. Apakah engkau ingin tahu?”

Darsi mengerutkan dahi.

“Benar engkau tidak ingin tahu apa kelakuan yang lebih nista?”

Darsi agak kebingungan, dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Lohgawe.

“Apa maksudmu?”

Lohgawe tertawa pendek.

“Tanyakan suamimu yang perkasa, perbuatan hina macam apa yang aku maksud.”

Demang Kertapati memandang Lohgawe dengan pandangan menyala-nyala.

“Ayo demang yang gagah. Bersikaplah ksatria. Berceritalah dengan jujur.”

“Bercerita apa?” Demang Kertapati tanpa sadar balik bertanya.

Lohgawe tertawa geli. Pancingannya berhasil.