Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 140

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 140Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
12 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

140

Lohgawe tertawa geli. Pancingannya berhasil.

“Bercerita apa saja. Bagaimana engkau jatuh cinta terhadap seorang wanita, tergila-gila, dan menjadi edan beneran karena bertepuk sebelah tangan. Lalu engkau merancang niat keji dan tentu disengkuyung paman gurumu yang sama bobrok moralnya itu. Dengan pura-pura membuat perhelatan merti dusun, menanggap wayang dan mengadakan ruwatan, kemudian dalang beserta seluruh nayaga engkau bunuh lewat racun dan sang dalang tewas oleh anak panah yang dilepas oleh paman gurumu yang sakti itu….”

“Maling keparat! Engkau memasuki rumahku dan menculik anakku,” bentak demang Kertapati. Namun Lohgawe justru mendekat dan berhenti tiga jengkal di depannya. Pisau kecil terus melekat di leher bayi, dan ketika Lohgawe selangkah maju, Kertapati selangkah mundur.

“Wanita yang membuatmu kayungyun setengah mati itu akhirnya bunuh diri. Dan engkau dengan alasan yang tidak masuk akal menunggui mayatnya selama empat puluh hari.”

Udara yang semula tenang seolah bergetar di halaman kademangan itu. Andai waktu itu siang tentu kelihatan bagaimana merah padamnya paras demang Kertapati. Ucapan Lohgawe membuat Darsi kaget setengah mati. Sedemikian rompal akhlak suaminya itu?!

“Maling keparat. Tidak hanya nista, engkau juga culas. Mulutmu berbisa.” Mengombak napas demang Kertapati. Darahnya mendidih sampai ujung kepala. Resi Kamayan diam saja.

“Wahai prajurit Tembayat yang perkasa,” seru demang Kertapati. “Beri kesaksianmu.”

Lohgawe terperangah. Ia tidak menyangka demang Kertapati begitu licik dan mencoba menggunakan sebagian prajurit yang tentu begundalnya. Pasti sudah bertahun terjadi konsolidasi kekuasaan dan ekonomi; takhta dan banda. Demang itu menggunakan kekayaan serta daulatnya untuk mengubah das sollen (yang seharusnya) berbeda alur dengan das sein (yang nyata).

“Maling itu dusta,” teriak seorang prajurit disusul beberapa temannya.

“Benar. Pencuri itu bohong.”

“Gusti demang tidak melakukan seperti dituduhkan maling keparat.”

“Maling itu fitnah!”

Lohgawe kini tahu ia berhadapan dengan orang-orang culas.

“Demang Kertapati, biarkan aku pergi, dan bayi ini aku jamin selamat.”

“Anak muda. Bukan kamu yang punya tawaran. Aku penentu di sini. Menyerahlah baik- baik, dan kami akan memertimbangkan hukuman yang pantas untukmu. Engkau masih belia.”

Lohgawe tertawa dan kembali masuk ke gedung kademangan, kemudian menutup pintu rapat-rapat. Seluruh pintu dan jendela diteliti untuk dicari titik kelemahannya. Lohgawe berdiri tepat di tengah-tengah ruangan memandangi blandar yang melintang di atas. Sejenak kemudian terdengar alunan seruling.

Lohgawe memang bernyali besar. Dalam posisi terkepung rapat ia masih sempat meniup seruling sebagai olok-olok terhadap demang Kertapati, Resi Kamayan, dan sekian ratus prajurit. Beberapa orang menduga “pencuri” itu di ambang putus asa karena merasa tidak mampu lolos dari kepungan seketat itu.

Bulan di langit tidak terganggu oleh mendung yang diam-diam menyibak entah ke mana. Namun beriringan alunan seruling yang mengoyak malam, mendadak muncul kabut melayang di udara disertai rasa kantuk yang menyerang orang-orang di halaman.