Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 141

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 141Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
13 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

141

Para prajurit termangu-mangu. Mereka menunggu perintah dari junjungannya. Beberapa perwira menyadari ada sesuatu yang aneh karena sekonyong-konyong mulutnya menguap seperti bukan atas kehendak sendiri.

“Kita harus bagaimana?” bisik seorang prajurit dengan wajah plonga plongo.

“Menunggu.”

“Sampai kapan? Aku mengantuk.”

“Sama. Sebaiknya kita serbu. Siapkan panah api. Tentu maling itu akan keluar, dan kita gebuk sampai mati.”

“Setuju…….” Prajurit itu menguap keras lalu matanya terpejam. Tidur.

“Ayo.” Belum sempat melangkah kawannya ikut tertidur.

Demang Kertapati mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia melihat banyak prajuritnya tertidur. Ada yang berdiri sambil bersandar di tembok dengan mata terlayang. Ada pula yang berusaha tetap tegak berpegangan landean tombak. Ketika demang itu menengok ke paman gurunya, tampak Resi Kamayan bersedakap dan di atas kepalanya mengepul uap putih. Ia semakin curiga melihat kabut bergulung-gulung di udara mengeluarkan desis seperti hurikan.

“Aji penyirepan,” desah demang Kertapati. Para maling biasanya memang memiliki ilmu seperti itu. Tapi pencuri semuda itu sudah menguasai pupuh bayu?

Masih kurang yakin dengan keadaan sekeliling, demang sakti itu mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri. Melalui keheningan mata hati, ia merasakan di balik alunan seruling itu muncul kekuatan halus yang membetot sukma, menarik-narik semangatnya untuk molor.

“Ada serangan sirep. Cepat pusatkan perhatian,” teriak demang Kertapati. Beberapa di antara kelompok prajurit berusaha mengambil sikap namun terlambat. Darsi celentang bersandar penyangga kentongan. Tubuh paman gurunya menggigil dengan muka berkeringat padahal suhu malam itu begitu dingin. Kabut berputar-putar semakin tebal sehingga demang Kertapati tidak mampu menangkap bayangan sejengkal di depannya.

“Semua siaga!” Seruan demang Kertapati sia-sia. Para prajurit terselempai di mana-mana Satu-satunya orang yang masih terjaga selain dirinya hanya Resi Kamayan. Rangsangan kantuk bisa dilawan dengan kesadaran atas Mundingsari yang berada dalam bahaya. Tetapi tak mungkin baginya melawan kabut tebal bergulung-gulung yang membuat suasana gelap.

“Pengecut keparat! Engkau ketakutan menghadapi prajurit Tembayat? Ayo lawan aku!”

Suara seruling tiba-tiba berhenti.

“Ilmu siluman. Mana berani engkau melawanku secara ksatria?” ujar berang demang itu.

“Engkau keliru, Kertapati. Ini bukan ilmu hitam. Semua ciptaan hyang widi. Aku hanya mengundangnya ke tempat ini mengingat prajuritmu terlalu banyak,” jawab Lohgawe lantang. Ia muncul dari balik pintu masih menggendong Mundingsari yang tidur pulas.

“Mau engkau apakan anak itu?” tanya cemas demang Kertapati.

“Aku tidurkan di tempat yang nyaman. Benar katamu, menculik bayi merupakan sebuah kesalahan besar.” Lohgawe sangat berhati-hati menaruh Mundingsari di atas kursi panjang. Tak ada rasa khawatir ia akan dipanah dari belakang atau demang itu berbuat curang. Semua prajurit tertidur, dan sang demang tentu tidak gegabah menyerang yang salah-salah mengenai anaknya sendiri.

Namun ada sesuatu di luar perhitungan Lohgawe. Sesuatu yang luput dari dugaan, dan menyebabkan rencananya tidak berjalan mulus.