Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 142

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 142Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
16 November 2020 23:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

142

Suara tawa itu, awalnya lirih, seperti orang yang terbungkam mulutnya. Lalu berubah berderai-derai. Kemudian terbahak-bahak. Dan akibatnya luar biasa. Semua prajurit serentak bangun terbebas dari sirep. Kabut tebal pelan-pelan berkurang sampai akhirnya lenyap tanpa bekas. Di samping demang Kertapati berdiri dengan jemawa Resi Kamayan. Para prajurit kembali membuat pagar betis yang rengket ketika Lohgawe dengan akas melompat masuk dan mengunci pintu kembali.

“Menyerahlah anak muda. Engkau tahu tidak ada gunanya mengulur waktu.” Terdengar suara berat Resi Kamayan. Tidak ada balasan. Suasana hening tapi tegang.

“Engkau keras kepala? Para prajurit akan memecahkan pintu dan beramai-ramai menusuk serta mengoyak tubuhmu sampai hancur arang keranjang,” ancam demang Kertapati.

Terdengar suara seruling mendayu-dayu membuat udara kembali menggeletar.

“Jangan dungu maling muda. Apa gunanya engkau mengulang permainan sirepmu?”

Seruling itu tetap mengalun bahkan semakin keras.

“Bocah keparat! Kita pecahkan pintu!” Kertapati melihat paman gurunya bersedekap.

Lohgawe bergeming. Ia terus meniup seruling dengan menutupi babahan hawa sanga. Jemari tangan kirinya lincah memainkan irama naik turun, terkadang dengan nada tinggi sekali seolah ingin menggapai awan di langit, lalu mendadak nada rendah seakan menyelam ke dasar palung samudra. Sebagaimana halnya Resi Kamayan yang tadi berkeringat di malam yang sejuk, Lohgawe meniup dengan tubuh mandi peluh. Suara seruling mengalir melalui udara menabrak dinding kademangan; menjalar di permukaan tanah; menyapa katak yang ciblon di genangan air; menjentik kunang-kunang yang terbang riang; menyeru ular dan hewan nokturnal. Alunan suara itu bisa bergerak dengan jangkauan sangat jauh pun menyapa gerumbul; pepohonan; celah tanah; bahkan penghuni ceruk besar di bawah pohon gurda yang ambruk diterjang angin.

“Bocah tak tahu diri,” geram demang Kertapati yang semula tidak menandai ada sesuatu yang ganjil. Melalui kelantipan mata batin, Resi Kamayan merasakan suara seruling diarahkan ke tujuan lain, bukan memancing rasa kantuk. Bunyi seruling bukan bermaksud menyirep.

“Setan alas!” maki demang Kertapati yang benar-benar jengkel dengan ulah maling belia keras kepala itu. “Keparat itu melakukan apa, paman?”

Resi Kamayan tidak menjawab. 

Sebagai “jawabannya” adalah suara berkeresekan disusul aroma wengur. Banyak “tamu” menggeliat mendekati sumber suara. Ia muncul dari lubang di tanah; rekahan akar pohon besar; ada pula yang merayap turun dari pohon serta rimbun dedaunan. Demikian pula penghuni lubang besar dalam tanah yang sebenarnya malas ke mana-mana karena kekenyangan habis menyantap seekor kelinci gemuk ikut merayap.

“Ular!”

“Ular!”

“Ular kobra!”

Semua prajurit panik. Demang Kertapati bahkan tidak berani beranjak ketika empat ekor ular melintas di depannya sebab ia paham itu jenis sangat mematikan: bandotan; talimongso; dan weling. Racun bisanya hanya setingkat di bawah kobra. Begitu pula ular welang dan ular macan. Bahkan merayap pula ular dengan kelainan genetika seperti welang putih dan kobra albino.

“Celaka!” gagap seorang prajurit yang melihat ratusan ekor ular dengan racun yang biasa sampai luar biasa, semua hadir di situ. Ia tentu tidak sempat mengabsen jenis apa saja ular itu.

Seorang prajurit sangat terkejut ketika seekor ular merayap di bawah kakinya. Gerakan seketika yang dilakukan prajurit itu berakibat fatal. Ular dumung itu mematuknya.