Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 143

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 143Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
18 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

143

“Diam di tempat. Jangan ada yang bergerak.” Berkali-kali Resi Kamayan menenangkan orang-orang yang ketakutan dan bersiap-siap lari. Ular-ular beracun itu sangat peka. Sedikit saja ada gerakan di dekatnya mereka protektif dengan mematuk apa saja yang bergerak.

Sebuah pelajaran amat berharga harus ditebus mahal. Prajurit yang dipatuk kakinya tidak memerlukan waktu lama langsung tewas dengan badan biru. Tidak seorang pun berani bergerak. Semua memilih berdiam diri seolah benda mati. Bahkan ketika seekor ular piton (sanca sejati-pen) menganggapnya batang pohon yang nyaman dirambati, dengan tubuh adem panas prajurit itu berdiri mematung.

“Jangan beranjak. Jangan menarik perhatian ular dengan gerakan apapun.” Kembali sang demang memberi petunjuk, namun ia sendiri berada dalam bahaya. Seekor ular tepung ari amat dekat dengan kakinya. Ia terbelalak ngeri melihat biang dari segala ular juga muncul, meliuk-liuk di sela kaki para prajurit dan sepertinya menunggu komando apa yang akan diberikan peniup suling.

Lohgawe bangkit berdiri tanpa menghentikan alunan seruling. Ia tahu kesempatan hanya satu: melarikan diri mumpung masih mampu mengendalikan “pasukannya” ular-ular berbisa itu. Dengan terus meniup, ia berjalan hati-hati, seluruh sarafnya tegang mengantisipasi gerakan atau sikap sekecil apapun terutama dari Resi Kamayan dan demang Kertapati yang sakti.

Nyaris pecah kepala sang demang melihat “maling” itu berjalan melenggang masih tetap meniup seruling dengan santuy; jalannya dibuat-buat seperti meledeknya dengan mata berkedip-kedip. Demang Kertapati sungguh-sungguh naik pitam. Begitu pula Resi Kamayan. Tapi mereka dapat berbuat apa? Semua ular “Flash Mob” bergerak “menari” mengikuti alunan suling. Seekor ular pudak bromo, barangkali kurang jozzz kalau sekadar mengigalkan tubuh, kepalanya ikut terangguk-angguk ke kanan-kiri. Pada suasana lain, pemandangan itu tentu lucu. Tidak pada saat itu. Bahkan Lohgawe pun tidak berani memecah perhatian agar “kendalinya” tidak buyar.

Pelan tapi pasti. Lohgawe mendekati regol kademangan. Satu, dua, tiga dan…. Lohgawe berlari kencang. Ia sudah memperhitungkan “bius” serulingnya tidak seketika sirna karena ular-ular itu perlu “adaptasi” sekian detik untuk sadar, dan baginya waktu sekejap adalah kesempatan lari keluar desa. Jatuh banyak korban dalam peristiwa itu. Beberapa orang prajurit mati dipatuk hewan berbisa itu maupun dibelit ular piton. Puluhan orang terluka digigit ular yang racunnya tidak mematikan. Terjadi “genosida” atas hewan karnivora itu karena demang Kertapati, dibantu Resi Kamayan serta para prajurit membantai binatang reptil bersisik yang kehilangan semangat bersama samarnya alunan seruling.

Dan di desa-desa luar kademangan Tembayat, para penduduk terutama kaum duafa kaget di rumah mereka yang kebanyakan gubuk reyot “kejatuhan” gelang, kalung, subang emas berlian seakan runtuh dari langit. Tentu gegabah menyebut tindakan Lohgawe filantropi. Pertama, harta yang ia bagikan bukan hasil kerja kerasnya melainkan jarahan. Dan kedua, ada unsur pembalasan dendam dalam gerak migunani liyan itu. (Mungkin lebih klop disebut Robin Hood–pen).