Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 144

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 144Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
19 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

144

GUA di ereng-ereng busut itu bentuknya seperti mulut raksasa sedang menganga. Dan mungkin satu kebetulan, tepat di atas terowongan itu terdapat dua batu hitam besar seakan-akan merupakan mata, sedangkan di kanan kirinya tumbuh pohon berjuntai menyerupai rambut buta. Dan agaknya kebetulan lagi di kanan gorong-gorong ada batu berbentuk caling tajam meruncing. Dari kejauhan, genap sudah pemandangan gua itu layaknya raksasa tengah meringis. Puluhan burung kepinis dan walet beterbangan keluar masuk lubang mengeluarkan suara bercuitan ramai

Di tengah gua yang merupakan pelataran cukup jembar tampak seorang kakek renta yang sulit ditaksir berapa usianya. Ia mengenakan kain putih bersih, dibelit-belitkan di tubuhnya yang kersang, tangan kanannya memegang tasbih hitam. Kakinya tanpa kasut. Alis, kumis, jenggot, semuanya putih keperakan. Namun kulit wajahnya segar kemerah-merahan tidak berkisut.

Di hadapannya, dalam jarak tiga jengkal, seorang lelaki muda tampan bersila merangkap kedua telapak tangan membentuk sembah, menempelkan kedua ibu jari di depan hidungnya dan memejamkan mata. Pernapasannya teratur dan parasnya begitu tenang. Mereka suntuk bersemadi dan sepertinya tidak terganggu dengan cericit burung lawet yang berseliweran keluar masuk liang untuk mencari makanan bagi anak-anaknya. Keduanya dalam keadaan wening, dan di belakang kepala kakek itu memancar cahaya kebiru-biruan.

Entah berapa lama keheningan mengalir di senja yang damai, sampai kemudian kakek itu membuka mata. Pandangannya jernih dan penuh asih memandang anak muda yang masih ‘pulas’ bersemadi. Mungkin terjadi semacam kontak batin, tidak berselang lama laki-laki belia itu juga membuka mata, dan mengangguk takzim.

Kakek itu menarik napas panjang sekali.

“Lohgawe, bagaimana perjalananmu?”

Anak muda itu menunduk.

Sepintas wajahnya agak keruh meski segera kembali normal. Tapi yang sepintas itu tidak luput dari pandangan sang kakek yang permana.

“Kurang menggembirakan, Guru.”

Kakek renta itu mengangguk-angguk. Matanya menyorot tenang.

“Memang tidak ada yang lebih buruk dari benci dan kesumat.”

“Tapi kematian rama dan iyung sangat mengenaskan…”

“Aku teringat wejangan Patih Narotama. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik. Hati yang terlatih akan terpelihara dari segala macam bentuk dendam kesumat. Dan, dendam tidak otomatis musnah karena pembalasan dendam. Ia mata rantai tak berkesudahan.”

Lohgawe memandang gurunya dengan agak bingung.

“Ampun, Guru. Mungkin saja saya mampu menghilangkan dendam, dengan menganggap bahwa kematian rama dan iyung itu pepesthen. Suratan takdir. Kebetulan saja, sebagai perantara akhir hidup mereka adalah Kertapati dan Resi Kamayan,” kata Lohgawe pelan.

“Maafkan jika pendapat saya salah. Kejahatan tak bisa diselesaikan dengan pengharapan akan perubahan moral. Demang Kertapati bukan hanya lancung dan penuh angkara, selebihnya ia penguasa tirani. Saya memang kawula biasa, namun saya harus melawannya, dan tidak peduli awam menyebut sebagai sikap kepahlawanan, yang barangkali hanya sebuah kesia-siaan.”