Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 145

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 145Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
20 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

145

Kakek itu kembali tertawa lirih. Ia memandang muridnya dengan raut berseri.

“Memahami orang lain adalah bijaksana, memahami diri sendiri adalah pencerahan. Dia yang memahami orang lain itu rembulan. Dia yang mengenali dirinya sendiri itu Matahari.”

Lohgawe ganti memandang gurunya penuh kasih.

“Jadi, guru tidak melarang saya bertindak memberantas kejahatan?”

Gurunya mengangguk.

Terdengar suara berisik di kiri mulut gua agak menjorok masuk. Di dalam keremangan tampak seekor ular king kobra sepanjang hampir lima meter sedang menggigit seekor ular hitam spesies krait sekitar dua meter yang lazim disebut welang (Bungarus Fasciatus-pen). Mulut raja ular berbisa itu “kewalahan” menelan hidup-hidup ular welang yang gigih memertahankan hidup di detik-detik pungkasan.

“Kasihan,” desis Lohgawe.

“Engkau lihat dan amati dengan teliti. Kobra menyantap tanpa amarah. Yang dilakukan ular itu bukan balas dendam. Kobra memang santapannya ular, dan terkadang memerlukan jenis beracun untuk menghangatkan tubuhnya. Engkau bisa membayangkan bagaimana lingkungan ini jika ular dibiarkan beranak-pinak tanpa kendali. Kobra makan ular welang itu merupakan rantai kehidupan, dan melestarikan alam,” kata kakek itu sambil tersenyum.

“Begitu juga kejahatan selayaknya dibasmi sepanjang itu bukan ajang balas dendam. Itu yang dimaksudkan, Guru?”

Kakek itu tertawa pelan.

“Betul. Yang diberantas adalah kelakuannya. Jangan membenci orangnya.”

Lohgawe mengangguk. Ia mulai memahami apa yang dimaksud gurunya.

“Cinta membangun kehidupan, dendam membawa kemusnahan. Aku ikut bersyukur jika engkau menghadapi demang dan paman gurunya itu bukan atas nama amarah atau apalagi balas dendam. Nasib merupakan akhir sebuah dongeng yang senantiasa datang terlambat. Kita baru berhasil menyimpulkannya setelah halaman terakhir dibaca.”

“Terima kasih atas bimbinganmu, Guru.” Lohgawe mengangguk khidmat.

“Coba amati misbah itu,” kata guru Lohgawe sambil menunjuk kandil di sudut gua, yang nyalanya anteng karena angin sedang mengerem desirnya. Apinya tenang lurus ke atas.

“Cublik itu sedang membakar dirinya, tapi berguna membawa terang bagi sekelilingnya. Beda dengan kesumat, ia akan membakar dirimu, dan tidak bermanfaat bagi siapapun.”

“Sendhika, Guru. Jika suatu saat aku bertemu Kertapati, bukan dendam yang menguasai diriku. Semua berjalan sesuai hukum alam,” kata Lohgawe mantap. Ia, sesuai petunjuk gurunya, kelak berusaha menghadapi demang yang telah memorandakan keluarganya itu tanpa rasa murka Tanpa kesumat. Tanpa dendam.

“Muridku, yang engkau tunggu sekarang datang,” ujar kakek itu dengan nada biasa.

Lohgawe mengerutkan kening. Siapa yang datang? Tiba-tiba telinganya menangkap suatu perubahan yang luar biasa. Burung-burung walet yang tengah bersliweran ke sana-sini mendadak sirep. Pohon-pohon raksasa seolah ikut bungkam. Tidak tampak apapun, memang. Namun sunyi terasa mengalir dengan tegang. Angin mengiris-iris dinding gua yang lapuk. Beberapa detik kemudian terdengar suara parau menusuk telinga. Bunyi burung goak.

“Gaok…Gaok…”

Lohgawe sering mendengar teriakan burung pemakan bangkai ini, bahkan melihat bentuk gagak yang hitam cemani; jelek warna jelek rupa. Namun ia belum pernah merasakan suasana seram seperti sekarang. Mungkinkah hadirnya gaok membuat burung lawet dan sebangsanya itu terbang ketakutan? Tidak! Burung goak bukan alap-alap yang suka menerkam burung lain, ia adalah sepengecut-pengecutnya burung karena hanya menyerang lawan yang sudah jadi bangkai.