Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 146

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 146Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
21 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

146

Lohgawe melirik gurunya yang tenang bersila memejamkan mata. Sekonyong-konyong terdengar cericit dari dalam gua disusul munculnya burung walet yang hanya berputar-putar di mulut lubang seakan silau melihat sinar terang. Kakek itu mengangkat tangan kirinya dan burung burung tadi masuk ke dalam seperti mendapat komando agar balik ke sarang mereka di bagian ceruk yang lembap.

Sejenak kemudian merebak suara gaduh di depan gua. Di dalam keremangan malam itu tertebar kelepak sayap disertai suara cecuitan menusuk telinga. Ribuan kalong hitam menyerbu gua. Sekarang di mulut gua dipenuhi kelelawar menjijikkan berbau apak menyengat. Tapi aneh, ratusan hewan itu tidak menyambar masuk. Ada beberapa kalong berusaha menyelinap, namun terpental dan memekik ketakutan. Makin penuh sesak di atas dan muka pintu gua dengan ribuan kelelawar, banyak yang bergantungan di cabang-cabang pohon dan menjerit-jerit. Semua pohon dipenuhi kalong menebarkan aroma anyir-anyir wengur: hewan reservoir alami penebar virus.

“Kenapa tidak langsung saja masuk?” kata guru Lohgawe sembari mengangkat kedua tangannya seperti melambai. Terdengar suara lengkingan keras dari dalam, semakin lama kian gemuruh, mengatasi bunyi kelelawar. Ribuan ekor walet menerobos keluar gua sambil bercericit marah. Bagaikan asap hitam, rombongan burung ini menyerbu kalong, terjadilah perang dahsyat. Perang antarburung.

Bukan main dahsyatnya perang di udara itu. Patuk mematuk, sambar menyambar, cakar mencakar dan memukul dengan sayapnya. Ribuan kelelawar melakukan perlawanan mati-matian. Namun mereka kalah akas; kalah tangkas; dan kalah awas. Begitu gesit burung-burung walet mengelak, lalu dengan kecepatan kilat mematuk lawan dari samping. Payah rombongan kalong memertahankan diri. Korban berjatuhan satu demi satu. Bukan mati digigit walet yang mungil, akan tetapi yang diserang adalah mata sehingga kelelawar-kelelawar itu menjadi buta.

Mereka terbang kacau-balau ingin melarikan diri, tanpa arah tertentu, sehingga beberapa di antara mereka menabrak pohon lalu jatuh ke tanah. Burung-burung walet yang perkasa terus memburu kelelawar yang masih bertahan di depan gua. Perang yang aneh; berlangsung tak lama, tapi menggiriskan hati. Sebentar saja seluruh kelelawar terusir, tidak seekor pun tinggal. Burung walet terus mengejar sampai tidak terdengar lagi kepak kalong-kalong pecundang itu.

Tidak lama kemudian gua itu kembali sunyi nan tintrim. Bau wengur kelelawar terbang bersama semilir gunung. Guru Lohgawe masih memejamkan mata dengan tenang.

“Gaok…Gaok…” Suara parau burung gagak memecah keheningan. Agaknya burung itu bertengger di atas mulut gua. Kemudian disusul ringkik kuda yang sangat nyaring seakan berada persis di depan gorong-gorong.

“He-he-he. Kita sudah ditunggu.” Suara ketawa ini pun jelas sekali namun tidak kelihatan orangnya. Suara tanpa rupa itu bergema seperti iblis bangun dari kuburan, bergulung-gulung dan terdengar sayup tapi tandas. Lalu tercium bau dupa yang magis, harum semerbak mewangi.